Pengembangan sektor ekowisata di Indonesia kini menghadapi tantangan serius agar tidak sekadar menjadi ajang komoditas ekonomi. Di tengah pesatnya tren wisata berbasis alam, Ketua Program Studi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Awan Setia Dharmawan, mengingatkan pentingnya menjaga esensi ekowisata agar tetap berpijak pada konservasi lingkungan dan edukasi masyarakat.

Menurut Awan, ekowisata seharusnya menjadi instrumen pembangunan yang memadukan perlindungan ekosistem dengan pemberdayaan komunitas lokal. Ia menyoroti adanya kecenderungan industri pariwisata yang mulai mengedepankan profit jangka pendek, yang berpotensi menggeser nilai-nilai fundamental ekowisata dari orientasi kelestarian menjadi praktik kapitalisasi yang destruktif.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa indikator keberhasilan sebuah destinasi wisata tidak boleh hanya dinilai dari statistik kunjungan maupun pendapatan ekonomi semata. Kualitas ekowisata yang ideal harus tercermin dari terjaganya daya dukung lingkungan serta meningkatnya kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga sumber daya alam di wilayahnya.

Selaras dengan pandangan akademisi tersebut, Pemerintah Kota Batu kini tengah berupaya memformulasikan pengembangan desa wisata yang menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan kelestarian alam. Melalui program Dinas Pariwisata, pemerintah daerah mendorong pengelolaan destinasi yang berfokus pada manajemen sampah, edukasi lingkungan, serta penguatan partisipasi aktif warga setempat.

Sinergi antara pemikiran akademis dan kebijakan pemerintah ini diharapkan mampu menjadi acuan bagi daerah lain. Fokus utama pengembangan pariwisata ke depan haruslah mampu menjamin keberlanjutan aspek ekologi, sosial, dan ekonomi secara simultan demi masa depan lingkungan yang lebih baik.