Meluapkan emosi atau amarah secara berlebihan ternyata tidak hanya berdampak buruk pada hubungan sosial dan kesehatan mental, tetapi juga menyimpan bahaya serius bagi organ vital manusia. Pakar kesehatan memperingatkan bahwa kebiasaan marah-marah secara berulang dapat memicu gangguan irama jantung atau aritmia, terutama bagi individu yang rentan.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, dr. Bobby Arfhan Anwar, menjelaskan bahwa luapan emosi yang tidak terkendali secara langsung memengaruhi mekanisme kerja jantung. Melalui edukasi di media sosial pribadinya, ia mengingatkan masyarakat agar lebih bijak dalam mengelola emosi demi menjaga kesehatan organ pemompa darah tersebut.
Secara medis, ketika seseorang berada dalam kondisi marah, tubuh akan merespons dengan melepaskan hormon stres seperti adrenalin dan noradrenalin. Lonjakan hormon ini memicu peningkatan denyut jantung secara drastis, menaikkan tekanan darah, serta membuat sistem kelistrikan jantung menjadi tidak stabil dan lebih mudah terganggu.
Risiko terjadinya aritmia akibat kemarahan ini dilaporkan jauh lebih tinggi pada kelompok tertentu. Mereka yang memiliki riwayat penyakit jantung koroner, hipertensi (tekanan darah tinggi), gangguan keseimbangan elektrolit, maupun individu dengan kerentanan genetik disarankan untuk lebih waspada dan menghindari stres emosional yang berlebihan.