Samsung Galaxy Z Fold8 Ultra baru saja melewati serangkaian uji durabilitas ekstrem untuk mengukur ketangguhan fisik ponsel lipat premium tersebut. Meluncur sebagai suksesor generasi sebelumnya, perangkat kelas atas ini diuji mulai dari ketahanan gores, paparan api, hingga kekuatan engsel saat ditekuk secara paksa. Hasilnya mengungkap tantangan nyata yang masih dihadapi teknologi layar lipat saat ini.
Pengujian diawali pada bagian layar luar yang dilapisi Gorilla Glass Ceramic 3. Kaca pelindung ini menunjukkan performa standar ponsel flagship dengan mulai tergores pada level 6 skala Mohs dan goresan lebih dalam di level 7. Namun, situasi berbeda terlihat pada layar lipat internal yang masih sangat rentan. Menggunakan pelapis plastik terintegrasi yang tidak boleh dilepas, layar utama tersebut sudah mengalami baret halus pada level 2 dan goresan signifikan di level 3.
Ketahanan terhadap elemen eksternal lainnya juga diuji. Paparan api langsung dalam waktu singkat terbukti meninggalkan kerusakan visual yang permanen pada panel lipatnya. Di sisi lain, ketika dihadapkan pada paparan debu dan kotoran, engsel perangkat sempat mengeluarkan suara berderak, meski sistem mekanis dan layar lipatnya masih mampu berfungsi secara normal.
Titik krusial pengujian terjadi pada uji tekuk arah berlawanan. Ponsel ultra-premium ini sukses melewati tekukan pertama tanpa kerusakan struktural. Sayangnya, saat tekanan serupa diberikan untuk kedua kalinya, layar lipat bagian dalam mengalami kerusakan fatal dan tidak dapat digunakan lagi. Kerusakan ini menjadi catatan penting mengingat biaya penggantian layar lipat tersebut diperkirakan mencapai 639 dolar AS atau berkisar di angka Rp10 juta.
Proses pembongkaran pasca-pengujian mengungkap detail rancang bangun internal ponsel secara lebih rinci. Ditemukan empat modul engsel identik yang menopang struktur lipatan Galaxy Z Fold8 Ultra. Kendati secara sekilas mirip dengan mekanisme yang diusung oleh varian Galaxy Z Fold8 standar, analisis mendalam menunjukkan adanya penyesuaian desain khusus yang diterapkan Samsung pada varian Ultra ini.
Dengan harga rilis global mulai dari 2.099 dolar AS atau sekitar Rp32 jutaan, aspek durabilitas tentu menjadi pertimbangan utama bagi calon konsumen, khususnya di Indonesia. Hingga kini pihak Samsung belum memberikan pernyataan resmi terkait hasil uji independen ini. Temuan tersebut menjadi pengingat bagi konsumen bahwa di balik inovasi visual yang futuristik, perangkat layar lipat generasi terbaru pun masih memerlukan penanganan yang ekstra hati-hati.