Fenomena anak-anak yang menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar gawai kini memicu kekhawatiran baru di bidang kesehatan. Para dokter spesialis mata melaporkan adanya lonjakan signifikan pada kasus miopia atau mata minus pada anak, dengan laju pertambahan minus yang jauh lebih cepat dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

Ketua Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) Cabang Jakarta, dr. Julie Dewi Barliana, Sp.M(K), M.Biomed, menjelaskan bahwa tren kenaikan ini sangat terasa setelah pandemi COVID-19. Pembatasan aktivitas yang membuat anak-anak lebih banyak berdiam di dalam rumah menjadi salah satu pemicu utama melonjaknya angka kejadian dan progresivitas miopia.

Meski faktor genetika memegang peranan, dr. Julie menekankan bahwa faktor lingkungan kini menjadi pemicu dominan. Durasi menatap layar yang terlalu lama tanpa diimbangi dengan aktivitas luar ruangan memperburuk kondisi mata anak. Paparan sinar matahari alami sebenarnya sangat krusial untuk menghambat perkembangan ukuran minus pada mata. Oleh karena itu, anak-anak disarankan untuk beraktivitas di luar ruangan minimal dua jam setiap hari.

Keterlambatan penanganan sering kali terjadi karena orang tua baru menyadari masalah ini setelah mendapat laporan dari sekolah bahwa anak kesulitan melihat papan tulis. Padahal, gejala awal miopia dapat dideteksi di rumah melalui kebiasaan anak yang sering memicingkan mata, memiringkan kepala saat melihat objek jauh, atau menonton televisi dalam jarak yang terlalu dekat.

Untuk meminimalkan risiko ketegangan mata, dr. Julie merekomendasikan penerapan metode 20-20-20 secara disiplin. Aturan ini mengharuskan anak untuk mengalihkan pandangan dari layar gawai setiap 20 menit, lalu menatap objek yang berjarak sekitar enam meter (20 kaki) selama minimal 20 detik.

Bagi anak yang sudah terdiagnosis miopia, kontrol rutin mutlak diperlukan untuk menekan pertambahan minus agar tidak melebihi 0,5 dioptri per tahun. Penanganan medis saat ini tidak hanya mengandalkan kacamata biasa, melainkan juga terapi obat tetes atropin dosis rendah serta teknologi lensa khusus yang dirancang untuk memperlambat pemanjangan bola mata.

Kelalaian dalam mengontrol mata minus dapat menyebabkan bola mata memanjang secara ekstrem. Kondisi ini berpotensi menarik dan menipiskan jaringan retina di bagian belakang mata, yang dalam jangka panjang memicu komplikasi serius bernama pathological myopia hingga risiko kebutaan.

Di sisi lain, dr. Julie juga meluruskan mitos seputar konsumsi wortel yang dipercaya dapat menyembuhkan mata minus. Walaupun kaya akan nutrisi yang baik untuk kesehatan retina, konsumsi wortel sama sekali tidak dapat mengurangi ukuran minus yang sudah terbentuk pada mata anak. Langkah pencegahan terbaik tetap bertumpu pada pembatasan durasi gawai, peningkatan aktivitas luar ruang, dan pemeriksaan berkala.