Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai latar belakang keluarga bandar narkotika yang menjadi target operasi di Desa Tumbang Kalemei, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Berdasarkan penelusuran di lapangan, keluarga tersebut dikenal memiliki rekam jejak sosial yang buruk dan kerap meresahkan masyarakat setempat melalui tindakan intimidasi.

Komisioner Kompolnas, Choirul Anam, menjelaskan bahwa kelompok tersebut bukan sekadar pengedar skala kecil, melainkan jaringan penting dalam peredaran narkoba di wilayah tersebut. Keterangan dari tokoh masyarakat dan warga setempat menyebutkan bahwa keluarga ini sering membuat kegaduhan, bahkan tidak segan mendatangi rumah warga dengan membawa senjata tajam jenis parang untuk menakut-nakuti.

Insiden berdarah yang merenggut nyawa tiga personel Satresnarkoba Polres Katingan dipicu oleh provokasi keluarga target operasi. Saat petugas tiba dengan prosedur resmi dan membawa surat tugas, pihak keluarga justru meneriakkan tuduhan bahwa polisi adalah perampok. Teriakan tersebut memicu massa yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan pelaku untuk melakukan penyerangan secara brutal.

Dalam upaya menyelamatkan diri, petugas sempat mencoba meloloskan diri dengan berenang melintasi Sungai Katingan sejauh 500 meter. Namun, setelah kembali ke daratan, para petugas tetap dikejar oleh massa hingga akhirnya tiga personel dilaporkan gugur dan jasadnya dibuang ke sungai. Kompolnas menegaskan bahwa kejadian ini telah melukai hati institusi Polri dan masyarakat luas.

Menanggapi tragedi tersebut, Kompolnas mendesak Polda Kalimantan Tengah untuk menjatuhkan hukuman seberat-beratnya bagi seluruh pihak yang terlibat. Penyidik diminta menerapkan pasal berlapis, tidak hanya kepada eksekutor lapangan, tetapi juga memburu aktor intelektual yang mendanai maupun menggerakkan massa dalam aksi penyerangan tersebut demi menciptakan efek jera.