Jakarta – Dunia media sosial kembali diramaikan oleh tren kesehatan yang menarik perhatian banyak pengguna. Kali ini, kebiasaan melarutkan bubuk gelatin tanpa rasa ke dalam air hangat lalu meminumnya sebelum waktu makan menjadi perbincangan luas. Para konten kreator menyebut praktik ini mampu menekan nafsu makan secara signifikan, hingga mendapat julukan populer sebagai "Ozempic alami".

Meskipun klaim tersebut terdengar menjanjikan, para pakar nutrisi mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru menyamakan efek gelatin dengan obat penurun berat badan berbasis semaglutide yang dikenal dengan nama dagang Ozempic. Keduanya memiliki mekanisme kerja yang berbeda secara fundamental di dalam tubuh.

Ahli gizi terkemuka asal New Jersey, Erin Palinski-Wade, mengakui bahwa sensasi kenyang setelah mengonsumsi larutan gelatin memang memiliki landasan ilmiah. Ia menjelaskan bahwa begitu gelatin masuk ke lambung, kondisi asam di dalam organ pencernaan tersebut mengubahnya menjadi campuran yang lebih kental dan volumenya bertambah. Proses ini menyebabkan dinding lambung meregang, kemudian mengirimkan sinyal kenyang ke otak.

"Saat gelatin mencapai lambung, lingkungan yang asam membuatnya berubah menjadi campuran yang lebih kental dan meningkatkan volume isi lambung," papar Palinski-Wade sebagaimana dikutip dari Fox News. Di samping itu, kandungan protein dalam gelatin turut memicu pelepasan hormon di saluran pencernaan yang berperan memperlambat laju konsumsi makanan. Dampaknya, sebagian orang secara alami akan mengurangi porsi serta asupan kalori saat menyantap hidangan utama.

Kendati demikian, Palinski-Wade menekankan bahwa larutan gelatin tidak bekerja seperti obat penurun berat badan pada tingkat reseptor tubuh. Bahan ini tidak memiliki kemampuan khusus untuk membakar lemak atau memengaruhi metabolisme. Rasa kenyang yang ditimbulkan bersifat sementara, semata-mata karena pengisian volume lambung, bukan karena intervensi terhadap sistem hormonal atau proses pembakaran lemak tubuh.

Pakar tersebut juga memperingatkan bahwa gelatin tidak layak dijadikan pengganti makanan utama. Meskipun mengandung protein, gelatin tergolong sebagai protein tidak lengkap karena kekurangan asam amino esensial triptofan. Mengandalkannya sebagai sumber nutrisi utama justru berpotensi menimbulkan ketidakseimbangan gizi dan kurang optimal dalam memelihara massa otot.

Bagi masyarakat dewasa yang ingin mencoba tren ini secara aman, Palinski-Wade memberikan panduan sederhana. Ia menyarankan penggunaan satu sendok makan bubuk gelatin tanpa rasa yang dilarutkan dalam air panas, kemudian diencerkan dengan air bersuhu ruang atau teh herbal. Minuman ini sebaiknya dikonsumsi sekitar 15 hingga 30 menit sebelum waktu makan agar efek kenyangnya terasa optimal.

Namun demikian, terdapat kelompok tertentu yang perlu berhati-hati. Ibu hamil, ibu menyusui, penderita gangguan ginjal, serta individu yang memiliki riwayat alergi terhadap produk hewani sangat dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi sebelum mengadopsi kebiasaan ini. Kehati-hatian diperlukan agar tren viral tidak justru membahayakan kondisi kesehatan.