MAKASSAR — Menghadapi dinamika pendidikan tinggi global yang kian kompetitif, Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar mulai mengarahkan fokus pada model hubungan antarkampus yang lebih kolaboratif. Melalui Kuliah Tamu Internasional bertajuk "Transformasi Pendidikan Tinggi dan Perubahan Sosial: Dari Kompetisi Menuju Koopetisi", Unismuh menggandeng Universiti Teknologi Malaysia (UTM) untuk merumuskan strategi penguatan daya saing di kancah internasional pada Senin (10/8/2026).

Acara yang diinisiasi oleh Program Studi S1 dan S2 Pendidikan Sosiologi Unismuh Makassar ini menghadirkan akademisi dari UTM, Prof. Madya Dr. Haji Zainudin bin Haji Hassan. Dalam paparannya, Zainudin memperkenalkan konsep "koopetisi"—sebuah sintesis dari kooperasi (kerja sama) dan kompetisi. Melalui konsep ini, perguruan tinggi didorong untuk tetap bersaing secara sehat dalam aspek mutu akademik dan reputasi, namun secara bersamaan bersinergi demi tumbuh bersama.

Zainudin menjelaskan bahwa arus globalisasi dan digitalisasi, termasuk pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), menuntut perguruan tinggi untuk bergerak lebih responsif. Menurutnya, kompetisi yang bersifat menutup diri kini tidak lagi relevan untuk menjawab tantangan zaman. Kampus harus membuka diri dan membangun jejaring global guna memperluas akses riset dan teknologi tanpa perlu khawatir kehilangan identitas institusinya.

Lebih lanjut, ia menawarkan berbagai bentuk kemitraan konkret yang memberikan dampak timbal balik yang nyata. Kerja sama tersebut mencakup penelitian bersama, publikasi ilmiah kolaboratif, pertukaran dosen dan mahasiswa yang terstruktur, hingga pemanfaatan fasilitas laboratorium secara bersama. Zainudin menegaskan bahwa kolaborasi internasional tidak boleh sekadar formalitas seremonial, melainkan harus memberikan dampak akademis yang berkelanjutan.

Merespons gagasan tersebut, Wakil Rektor I Unismuh Makassar, Prof. Andi Sukri Syamsuri, menyatakan komitmennya untuk segera merealisasikan poin-poin kerja sama tersebut. Salah satu langkah taktis yang dijajaki adalah melibatkan akademisi asing dalam pembelajaran melalui metode hibrida (gabungan luring dan daring), sehingga mahasiswa bisa mendapatkan pengalaman internasional tanpa terkendala mobilitas fisik secara penuh.

Peluang pengembangan program gelar ganda (double degree) dengan universitas di Malaysia juga menjadi agenda strategis yang mulai dipertimbangkan. Direktur Pascasarjana Unismuh, Prof. Erwin Akib, menambahkan bahwa adopsi praktik baik dari UTM sangat penting untuk menumbuhkan budaya riset yang kuat. Sejalan dengan itu, Dekan FKIP Unismuh, Dr. Baharullah, menekankan bahwa kemampuan berkolaborasi kini menjadi tolok ukur utama bagi universitas untuk dapat bertahan dan berkembang di era global.