Kemajuan teknologi satelit, pengindraan jauh, dan geoinformatika semakin menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi risiko bencana. Data berbasis citra satelit dinilai mampu menyediakan informasi yang cepat, akurat, dan relevan untuk mendukung keputusan pemerintah, baik saat tanggap darurat maupun dalam penyusunan strategi jangka panjang.

Peran tersebut kembali ditegaskan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui keikutsertaannya dalam 2026 International Academic Exchange and Disaster Resilience Workshop. Kegiatan ini digelar pada 10–11 Juni 2026 di National Taipei University dan menjadi ruang pertukaran gagasan bagi para peneliti serta praktisi di bidang ketahanan bencana, manajemen risiko, dan geoinformatika.

Dalam forum tersebut, Kepala Pusat Riset Geoinformatika BRIN, M. Rokhis Khomarudin, memaparkan posisi BRIN sebagai lembaga riset nasional Indonesia yang berperan dalam pengembangan teknologi geospasial. Ia menjelaskan bahwa pengindraan jauh tidak hanya digunakan untuk pemantauan bencana, tetapi juga mendukung berbagai kebutuhan strategis nasional.

Salah satu inovasi yang disampaikan adalah GEOMIMO, ekosistem geoinformatika yang dikembangkan BRIN untuk mengintegrasikan data dan analisis berbasis satelit. Platform ini diarahkan untuk menunjang sektor ketahanan pangan, lingkungan, kebencanaan, keamanan, hingga layanan geospasial yang membutuhkan data spasial secara presisi.

BRIN juga menyoroti penggunaan teknologi Synthetic Aperture Radar (SAR), Interferometric SAR (InSAR), citra optik multispektral, GeoAI, serta analisis multitemporal. Berbagai teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk memantau dinamika wilayah perkotaan, termasuk mendeteksi penurunan muka tanah, mengevaluasi stabilitas bangunan, mengidentifikasi kawasan kumuh, dan mengawasi potensi banjir.

Pemanfaatan teknologi tersebut dinilai semakin penting bagi kota-kota pesisir dan kawasan padat penduduk yang menghadapi tekanan urbanisasi, banjir rob, serta perubahan kondisi lingkungan. Dengan dukungan data satelit, pemerintah dan pemangku kepentingan dapat memperoleh gambaran risiko secara lebih rinci sebelum bencana terjadi.

Di wilayah perdesaan maupun daerah yang sudah terdampak bencana, pengindraan jauh juga berperan dalam mempercepat penanganan darurat. Pemetaan area banjir, identifikasi lokasi terdampak, dan penyediaan citra satelit resolusi tinggi dapat membantu proses evakuasi, distribusi bantuan, serta pemulihan pascabencana.

Melalui penguatan kolaborasi internasional, BRIN berupaya memperluas jejaring riset sekaligus mendorong lahirnya solusi kebencanaan yang lebih adaptif. Pengembangan teknologi geospasial berbasis satelit diharapkan dapat memperkuat sistem mitigasi bencana Indonesia agar lebih tangguh menghadapi perubahan iklim dan tekanan lingkungan global.