Menjaga kesehatan lambung sering kali hanya dikaitkan dengan pemilihan jenis makanan yang bergizi. Padahal, perilaku dan kebiasaan saat proses makan berlangsung memegang peranan krusial dalam menentukan seberapa efektif sistem pencernaan kita bekerja.
Menurut pakar gizi, Dr. Duong Thi Phuong, lambung memiliki keterikatan yang erat dengan sistem saraf. Oleh karena itu, faktor emosional seperti stres serta pola makan yang salah dapat berimplikasi langsung pada kesehatan pencernaan seseorang.
Kebiasaan pertama yang perlu dihindari adalah makan dengan fokus yang terpecah, seperti sambil bekerja atau menatap layar ponsel. Kondisi ini membuat tubuh gagal memproduksi enzim pencernaan dan asam lambung secara optimal. Selain itu, terburu-buru menelan makanan tanpa mengunyahnya dengan sempurna memaksa lambung bekerja ekstra keras untuk memecah partikel makanan, yang berisiko memicu kembung dan penyerapan nutrisi yang buruk.
Kedua, kebiasaan mengonsumsi makanan dalam porsi besar menjelang waktu tidur sangat tidak dianjurkan. Idealnya, lambung memerlukan waktu beberapa jam untuk mengosongkan isinya. Berbaring sesaat setelah makan meningkatkan risiko naiknya asam lambung ke kerongkongan, yang tidak hanya mengganggu proses pencernaan tetapi juga kualitas tidur Anda.
Terakhir, banyak orang keliru menganggap bahwa minum berlebihan saat makan akan memperlancar pencernaan. Faktanya, asupan cairan yang terlalu banyak justru dapat mengencerkan asam lambung, sehingga efisiensi pengolahan makanan menurun. Disarankan untuk membatasi konsumsi cairan saat makan, maksimal 100 mililiter, agar lambung dapat bekerja secara efektif.
Sebagai langkah preventif, para ahli menyarankan untuk membiasakan makan secara teratur dan menghindari asupan yang memicu iritasi seperti makanan terlalu pedas, asam, serta rokok dan alkohol. Pola hidup sadar (mindful eating) dengan mengunyah makanan secara perlahan adalah kunci utama dalam menjaga kesehatan sistem cerna jangka panjang.