Situasi keamanan di Timur Tengah kembali memanas setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) secara resmi meluncurkan serangan balasan terhadap sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait dan Bahrain. Aksi militer ini dilakukan sebagai tanggapan atas operasi ofensif berskala besar yang sebelumnya dilakukan oleh Komando Pusat AS (CENTCOM) terhadap wilayah Iran.
Dalam pernyataan yang disiarkan melalui televisi nasional, IRGC mengonfirmasi penggunaan rudal dan drone untuk menyasar fasilitas strategis di Pangkalan Arifjan serta Ali Al Salem di Kuwait, serta Pangkalan Juffair dan Sheikh Isa di Bahrain. Kelompok paramiliter tersebut menegaskan bahwa serangan ini merupakan peringatan bagi AS dan menyatakan kesiapan untuk memperluas jangkauan pembalasan ke pangkalan lain di kawasan jika eskalasi terus berlanjut.
Dampak dari serangan tersebut memicu kewaspadaan tinggi di kedua negara target. Pihak militer Kuwait melaporkan bahwa sistem pertahanan udara mereka telah aktif mencegat proyektil musuh, yang mengakibatkan rentetan suara ledakan di sejumlah wilayah dan pengaktifan sirine peringatan serangan udara. Situasi serupa juga terjadi di Bahrain, di mana Kementerian Dalam Negeri telah mengimbau warga untuk tetap tenang dan segera mencari perlindungan di tempat aman.
Eskalasi terbaru ini dipicu oleh operasi militer AS pada Rabu (8/7) malam yang menyasar 90 target militer di sepanjang garis pantai Iran. Pihak CENTCOM menyatakan bahwa serangan tersebut bertujuan melumpuhkan kapabilitas Iran dalam mengancam jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz. Aset yang dihancurkan mencakup sistem pertahanan udara, gudang penyimpanan drone, infrastruktur logistik, hingga kemampuan angkatan laut Iran.