Sebuah terobosan besar dalam dunia astrofisika berhasil dicapai setelah para peneliti mendeteksi keberadaan aliran bintang yang berasal dari gugus bola di luar galaksi Bima Sakti untuk pertama kalinya. Penemuan yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah ternama Nature ini membuka jalan baru bagi para ilmuwan untuk menyelidiki karakteristik materi gelap, salah satu komponen paling misterius yang menyusun alam semesta.

Studi mutakhir ini dipimpin oleh Julie Kiel Holm, seorang mahasiswa doktoral, bersama pembimbingnya, Profesor Madya Sarah Pearson, yang berafiliasi dengan Technical University of Denmark (DTU) dan Universitas Kopenhagen. Tim peneliti berhasil mengamati struktur aliran bintang yang unik tersebut pada sebuah galaksi ultra-difus yang dikenal sebagai UGC9050-Dw1.

Aliran bintang sendiri terbentuk ketika gravitasi kuat dari galaksi induk secara perlahan menarik dan merentangkan gugusan bintang padat menjadi struktur memanjang yang menyerupai pita. Karena letaknya yang berada di wilayah terluar galaksi yang relatif sepi dari gangguan gas kosmik atau konsentrasi bintang lainnya, aliran ini menjadi instrumen ideal untuk menguji keberadaan materi tak kasat mata.

Dalam praktiknya, para ilmuwan menggunakan aliran bintang ini layaknya "detektor" materi gelap alami. Jika ditemukan distorsi atau celah yang tidak wajar pada struktur aliran bintang yang seharusnya mulus, hal tersebut mengindikasikan adanya tarikan gravitasi dari materi gelap yang melintas di dekatnya. Dengan menganalisis anomali tersebut, para ahli dapat memetakan massa dan distribusi zat misterius tersebut.

Hingga saat ini, pemahaman manusia tentang alam semesta masih sangat terbatas, di mana materi biasa seperti planet dan bintang hanya mencakup sekitar 5 persen dari total kandungan kosmos. Sisanya didominasi oleh energi gelap sebesar 68 persen dan materi gelap sebanyak 27 persen. Melalui metode baru ini, para astronom kini dapat menguji apakah teori materi gelap yang selama ini didasarkan pada galaksi Bima Sakti juga berlaku secara universal di galaksi lain.

Ke depannya, para peneliti optimistis bahwa jumlah temuan aliran bintang di luar galaksi kita akan melonjak tajam. Harapan ini didukung oleh rencana pengoperasian instrumen antariksa generasi terbaru, termasuk Teleskop Luar Angkasa Nancy Grace Roman milik NASA dan misi Euclid besutan Badan Antariksa Eropa (ESA), yang dirancang khusus untuk memetakan ruang angkasa dengan presisi tinggi.