Para astronom internasional baru saja mencetak tonggak sejarah baru dalam dunia astrofisika dengan menyusun peta jaring kosmik paling rinci yang pernah ada. Menggunakan data mutakhir dari Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST), para peneliti berhasil memvisualisasikan bagaimana struktur raksasa alam semesta berevolusi dari jutaan tahun setelah Dentuman Besar hingga menjadi kerangka kosmik saat ini.

Hasil penelitian yang diterbitkan dalam The Astrophysical Journal pada Mei 2026 ini merupakan capaian krusial dari survei COSMOS-Web. Tim yang dipimpin oleh peneliti dari University of California, Riverside, ini berhasil merekonstruksi jaringan filamen gas, materi gelap, dan gugus galaksi dengan tingkat ketelitian yang jauh melampaui kemampuan teleskop sebelumnya seperti Hubble.

Studi ini memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana lingkungan kosmik memengaruhi siklus hidup galaksi. Menurut Hossein Hatamnia, salah satu penulis riset, jaring kosmik bertindak sebagai pengatur pertumbuhan galaksi. Pada era awal alam semesta, wilayah padat memacu pertumbuhan galaksi yang sangat cepat, namun seiring berjalannya waktu, lingkungan yang sama justru memicu penghentian pembentukan bintang baru.

Fenomena berhentinya pembentukan bintang pada galaksi masif tersebut diduga dipicu oleh aktivitas lubang hitam supermasif serta pengaruh halo materi gelap yang memanaskan gas di sekitarnya. Dengan durasi observasi selama 255 jam, survei ini mencakup area langit tiga kali ukuran bulan purnama dan berhasil mengidentifikasi lebih dari 164.000 galaksi yang kini datanya telah dibuka untuk publik.

Bahram Mobasher, astronom yang terlibat dalam proyek tersebut, menegaskan bahwa resolusi JWST memungkinkan manusia untuk mengintip era alam semesta yang sebelumnya dianggap mustahil untuk dijangkau. Temuan ini tidak hanya sekadar peta, tetapi menjadi kunci utama dalam memahami mekanisme rumit pembentukan struktur terbesar di alam semesta kita.