Raksasa industri video game, Xbox, kini tengah menghadapi tantangan berat dalam mewujudkan ambisi pertumbuhan layanan berlangganan mereka, Game Pass. Alih-alih mencapai target ambisius sebanyak 77 juta pelanggan pada tahun 2026, data terbaru menunjukkan bahwa jumlah pengguna justru tertahan di angka 30 juta, jauh di bawah proyeksi yang sempat muncul dalam dokumen akuisisi Activision Blizzard.
Angka ini mencerminkan stagnasi yang mengkhawatirkan bagi Microsoft, mengingat jumlah tersebut bahkan berada di bawah 40 persen dari target awal perusahaan. Situasi diperburuk dengan adanya indikasi penurunan jumlah pelanggan dibandingkan laporan resmi sebelumnya yang mencapai 34 juta orang. Tren negatif ini disinyalir dipicu oleh kebijakan kenaikan harga paket langganan premium yang menyebabkan jutaan pengguna memilih untuk berhenti berlangganan.
Kondisi internal perusahaan pun tengah berada dalam sorotan setelah manajemen mengungkapkan rencana restrukturisasi besar-besaran. CEO Xbox, Asha Sharma, secara terbuka menyatakan bahwa kesehatan bisnis saat ini tidak optimal dengan margin keuntungan yang jauh lebih rendah dibandingkan kompetitor di sektor yang sama. Langkah efisiensi drastis pun diambil dengan rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 4.800 karyawan hingga tahun fiskal 2027.
Selain masalah jumlah pelanggan, ketidakpastian masa depan layanan ini juga diperparah oleh perubahan strategi distribusi konten. Xbox memutuskan untuk tidak lagi merilis seluruh judul game baru secara langsung di hari peluncuran, termasuk penundaan integrasi seri populer Call of Duty ke dalam paket Ultimate. Langkah-langkah strategis ini kini dipertanyakan oleh analis industri sebagai upaya terakhir untuk menyelamatkan operasional bisnis perusahaan di tengah tekanan pasar yang semakin sengit.