Sebuah studi komprehensif yang diterbitkan dalam American Journal of Clinical Nutrition memberikan perspektif baru mengenai pola makan sehat. Riset ini menunjukkan bahwa diet Mediterania jauh lebih efektif dalam memitigasi risiko penyakit kardiovaskular dibandingkan dengan diet rendah lemak yang selama ini populer di masyarakat.
Para peneliti menggunakan metode target trial emulation dengan menganalisis data selama dua dekade dari Nurses’ Health Study dan Health Professionals Follow-Up Study. Fokus utama penelitian ini adalah membandingkan efektivitas diet Mediterania, pedoman American Heart Association (AHA) 2020, serta diet rendah lemak terhadap kesehatan jantung jangka panjang.
Hasil analisis menunjukkan angka yang cukup kontras. Kelompok yang menerapkan diet rendah lemak mencatatkan estimasi risiko penyakit kardiovaskular sebesar 35,9%. Angka ini lebih tinggi dibandingkan mereka yang menjalani diet Mediterania dengan tingkat risiko 28,2%, serta kelompok yang mengikuti pedoman AHA 2020 di angka 31,2%.
Perbedaan mendasar terletak pada komposisi nutrisi. Diet Mediterania menekankan asupan lemak sehat dari minyak zaitun, kacang-kacangan, ikan, serta sayuran. Sebaliknya, diet rendah lemak cenderung membatasi konsumsi lemak secara ketat, yang justru dinilai kurang optimal dalam memberikan perlindungan bagi sistem kardiovaskular dibandingkan pola makan dengan gizi seimbang.
Walaupun menunjukkan korelasi positif terhadap penurunan risiko penyakit jantung koroner dan angka kematian, peneliti memberikan catatan bahwa studi ini bersifat observasional. Selain itu, keterbatasan data yang berasal dari populasi tenaga kesehatan di Amerika Serikat menuntut adanya penelitian lebih lanjut agar temuan ini dapat digeneralisasi ke berbagai kelompok masyarakat dengan latar belakang berbeda.