Sebuah insiden yang menyita perhatian terjadi di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO di Ankara, Turki, pada Rabu (8/7/2026). Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan melakukan kesalahan fatal dalam pengucapan identitas negara dan nama tokoh saat melangsungkan konferensi pers bersama Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky.
Dalam pemaparannya terkait kapabilitas militer AS, Trump keliru menyebut "Republik Islam Jepang" ketika merujuk pada Iran, negara yang menurutnya telah meluncurkan 111 rudal ke arah kapal induk USS Abraham Lincoln beberapa bulan lalu. Kesalahan ini cukup mencolok mengingat Jepang merupakan sekutu strategis Amerika Serikat yang telah menjalin hubungan diplomatik erat selama puluhan tahun, jauh berbeda dengan ketegangan yang tengah berlangsung antara Washington dan Teheran.
Tidak berhenti di situ, momen kecanggungan kembali terjadi saat Trump secara tidak sengaja memanggil Presiden Ukraina yang duduk tepat di sampingnya dengan sebutan "Presiden Putin". Kesalahan penyebutan nama musuh bebuyutan Ukraina ini sontak memicu gelak tawa di antara awak media yang hadir di ruangan tersebut. Trump pun berupaya mencairkan suasana dengan melontarkan candaan ringan untuk mengoreksi kekeliruannya.
Rentetan salah ucap ini terjadi di tengah memanasnya situasi geopolitik pasca-runtuhnya gencatan senjata antara AS dan Iran. Sebelumnya, Trump melontarkan pernyataan keras terhadap pemerintah Iran, menyebut mereka sebagai pihak yang tidak lagi bisa diajak bernegosiasi. Hingga saat ini, insiden tersebut masih menjadi topik hangat yang memicu diskusi mengenai stabilitas komunikasi kepemimpinan di level internasional.