Provinsi Bali kembali dipercaya oleh pemerintah pusat untuk memimpin langkah strategis di sektor kesehatan publik. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia resmi menunjuk Bali sebagai salah satu dari tiga provinsi percontohan nasional untuk memperluas cakupan imunisasi Human Papillomavirus (HPV) yang menyasar anak laki-laki. Program yang direncanakan meluncur pada Agustus 2026 ini akan berjalan beriringan dengan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).

Selain Pulau Dewata, wilayah DKI Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta juga ditunjuk untuk menguji coba program ini sebelum diterapkan secara nasional. Di Bali sendiri, program ini ditargetkan menyasar sebanyak 29.818 anak laki-laki dan 28.573 anak perempuan tingkat sekolah dasar atau sederajat, dengan melibatkan koordinasi intensif antara Dinas Kesehatan Provinsi, kabupaten/kota, serta pihak sekolah dan puskesmas setempat.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr. I Nyoman Gede Anom, M.Kes., mengungkapkan bahwa penunjukan ini didasari oleh prestasi Bali yang mencatatkan persentase cakupan imunisasi HPV pada anak perempuan tertinggi di tanah air. Keberhasilan tersebut dinilai menjadi modal kuat dan bukti kesiapan infrastruktur kesehatan daerah dalam mengawal program perluasan sasaran ini.

Anom menegaskan pentingnya perluasan vaksinasi ini karena virus HPV tidak hanya mengancam kaum perempuan melalui kanker serviks. Faktanya, virus yang sama juga berisiko tinggi memicu berbagai penyakit fatal pada laki-laki, seperti kanker anus, kanker penis, kanker mulut dan tenggorokan (orofaring), hingga penyakit kutil kelamin. Oleh sebab itu, proteksi sejak dini pada anak laki-laki menjadi langkah pencegahan yang sangat krusial.

Program imunisasi HPV di Indonesia sejatinya telah diinisiasi secara bertahap sejak 2016 dan ditetapkan sebagai program nasional pada 2023. Mengikuti panduan terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sejak tahun 2025 pemerintah mulai menerapkan skema pemberian satu dosis vaksin serta melakukan imunisasi kejar bagi anak perempuan yang sempat terlewat.

Kementerian Kesehatan menjamin bahwa vaksin HPV yang digunakan telah teruji aman dan efektif melalui riset ilmiah global. Selama pelaksanaan program BIAS nanti, petugas medis tidak hanya memberikan suntikan vaksin, tetapi juga akan gencar mengedukasi guru dan orang tua siswa mengenai manfaat vaksinasi serta penanganan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) demi menyukseskan investasi kesehatan generasi masa depan.