Persiapan kontingen Indonesia menuju Asian Games 2026 di Jepang mulai memasuki tahap penting. Dengan waktu penyelenggaraan yang kian dekat, pemerintah menilai strategi pembinaan atlet harus disusun lebih matang karena persaingan antarnegara Asia diperkirakan semakin ketat.
Menteri Pemuda dan Olahraga RI Erick Thohir mengatakan, tantangan Indonesia pada Asian Games mendatang tidak hanya berkaitan dengan kualitas lawan. Perubahan sejumlah cabang dan nomor pertandingan juga menjadi perhatian, terutama karena beberapa nomor yang sebelumnya menjadi lumbung medali bagi Indonesia tidak lagi dipertandingkan.
Menurut Erick, kondisi tersebut menuntut pembinaan olahraga nasional yang lebih terukur, berkelanjutan, dan tidak bergantung pada persiapan jangka pendek. Ia menegaskan Indonesia harus menjaga tren prestasi yang telah dibangun dalam beberapa tahun terakhir, sekaligus meningkatkannya di berbagai ajang internasional.
“Kita harus mempertahankan bahkan meningkatkan prestasi yang sudah diraih. Negara-negara lain terus bergerak maju. Karena itu Indonesia juga harus memiliki sistem pembinaan yang kuat dan berkelanjutan agar mampu bersaing secara konsisten,” ujar Erick.
Erick menyebut kebutuhan pembinaan jangka panjang juga relevan untuk menghadapi agenda olahraga besar lainnya, mulai dari SEA Games 2026 di Malaysia hingga Olimpiade pada masa mendatang. Ia menilai, atlet kelas dunia tidak bisa dibentuk secara instan karena membutuhkan tahapan pengembangan kemampuan dasar, teknik, fisik, dan mental bertanding.
“Kita tidak mungkin mempersiapkan juara Olimpiade secara instan. Jika kita menargetkan Olimpiade 2032, maka atlet-atlet potensial harus mulai dibina dari sekarang,” katanya.
Menpora menjelaskan, arah kebijakan tersebut mendapat dukungan Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan di Hambalang pada Jumat (19/6). Salah satu langkah yang didorong pemerintah ialah penguatan pemusatan latihan nasional atau pelatnas jangka panjang dengan skema pendanaan multiyears.
Skema tersebut dinilai dapat memberi kepastian program bagi cabang olahraga, termasuk dalam menyusun kalender latihan, mengikuti kompetisi internasional, memperkuat sport science, dan memantau perkembangan atlet secara berkelanjutan.
“Presiden Prabowo mendukung penuh perubahan pola pikir dalam pembinaan olahraga nasional. Atlet juara dunia dan Olimpiade tidak lahir dari persiapan satu atau dua tahun, melainkan melalui proses pembinaan yang terencana dan berkelanjutan selama bertahun-tahun,” tegas Erick.
Ia menambahkan, gagasan pelatnas jangka panjang juga memperoleh respons positif dari sejumlah federasi olahraga nasional. Dukungan itu datang antara lain dari pimpinan cabang angkat besi, atletik, selancar ombak, dan panjat tebing, yang menilai pola pendanaan multiyears dapat memperkuat kesinambungan pembinaan atlet.
Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) Sugiono juga menyatakan dukungan terhadap komitmen pemerintah dalam memperkuat pelatnas jangka panjang. Menurutnya, kebijakan itu penting untuk membantu pencak silat berkembang lebih luas dan memperoleh pengakuan lebih besar di tingkat internasional.
Untuk memastikan kebijakan tersebut berjalan efektif, Kemenpora terus melakukan koordinasi lintas kementerian dan lembaga, termasuk dengan Kementerian Keuangan serta Kementerian Sekretariat Negara. Erick menyebut koordinasi itu diperlukan agar persiapan menuju Asian Games, SEA Games, dan Olimpiade dapat berlangsung sesuai target.