Indeks utama di Wall Street mencatatkan penurunan tajam pada perdagangan terbaru, dipicu oleh sentimen negatif dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Saham-saham di sektor teknologi dan produsen cip menjadi yang paling terdampak oleh aksi jual investor yang kini cenderung menghindari aset berisiko tinggi.
Di tengah ketidakpastian pasar global, mata uang Dolar Amerika Serikat kembali menguat dan memposisikan dirinya sebagai instrumen investasi safe-haven utama. Para pelaku pasar memilih menahan aset dalam denominasi Dolar di tengah kekhawatiran meluasnya konflik yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi global.
Situasi ini kian diperburuk dengan perkembangan diplomasi di Washington, di mana mantan Presiden Donald Trump telah mengirimkan surat resmi kepada Kongres terkait eskalasi konflik dengan Iran. Langkah tersebut direspons pasar sebagai sinyal bahwa risiko peperangan terbuka semakin nyata, yang secara langsung menekan optimisme investor di lantai bursa.
Sementara itu, dari dalam negeri, dinamika ekonomi tetap berlanjut dengan fokus pemerintah pada evaluasi kebijakan perpajakan pencairan Jaminan Hari Tua (JHT). Direktorat Jenderal Pajak (DJP) saat ini dilaporkan masih menanti arahan teknis lebih lanjut dari Menteri Keuangan terkait implementasi kebijakan tersebut agar tetap relevan dengan kondisi ekonomi nasional.
Di sisi lain, sektor penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) menunjukkan kinerja yang cukup resilien. Hingga periode terkini, realisasi penyaluran dana KUR telah menyentuh angka 54,2 persen dari target tahunan, dengan keberhasilan menjangkau lebih dari 1,1 juta debitur baru sebagai upaya berkelanjutan dalam memperkuat struktur ekonomi kerakyatan.