Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam British Journal of Sports Medicine mengungkapkan bahwa aktivitas fisik dengan formula yang tepat dapat secara signifikan menekan risiko stroke dan gangguan jantung pada penderita hipertensi. Penelitian ini menekankan pentingnya mengombinasikan olahraga intensitas sedang dengan latihan intensitas tinggi dalam durasi yang terukur guna menjaga kesehatan kardiovaskular.
Dalam riset berskala besar tersebut, para peneliti memantau aktivitas fisik dari 38.960 partisipan penderita tekanan darah tinggi dengan usia rata-rata 62 tahun. Selama periode pemantauan yang berlangsung selama delapan tahun, tercatat terjadi 1.416 kasus kardiovaskular utama, termasuk di antaranya 397 kasus stroke, 508 serangan jantung, dan 363 kasus gagal jantung.
Hasil analisis menunjukkan bahwa penderita hipertensi disarankan untuk melakukan olahraga intensitas sedang dengan total durasi minimal 150 menit per minggu. Manfaat perlindungan akan meningkat hingga 38 persen apabila penderita menyelinginya dengan latihan intensitas tinggi selama total 22 menit per minggu. Namun, latihan intensitas tinggi ini harus dilakukan dalam interval pendek sekitar satu menit per sesi untuk hasil yang optimal.
Sebaliknya, olahraga berat yang dipaksakan melebihi batas justru dapat membahayakan keselamatan pasien. Latihan intensitas tinggi yang dilakukan terlalu lama dalam satu sesi dapat melipatgandakan risiko stroke hingga dua sampai tiga kali. Hal ini terjadi karena lonjakan tekanan darah yang berlangsung terlalu lama berpotensi merusak pembuluh darah di area otak.
Dr. Brian Kolski dari Providence St. Joseph Hospital menjelaskan bahwa kenaikan tekanan darah saat berolahraga merupakan respons tubuh yang normal, yang biasanya akan kembali turun dalam kurun waktu 30 menit hingga empat jam setelahnya. Senada dengan hal tersebut, ahli kardiologi Dr. Brian Becerra merekomendasikan latihan interval aerobik secara rutin demi memperkuat sistem kardiovaskular tanpa memicu komplikasi berbahaya.