Republik Islam Iran menunjukkan sikap diplomasi yang semakin teguh pasca-eskalasi militer yang terjadi pada awal 2026. Di tengah upaya Washington untuk kembali menghidupkan negosiasi nuklir, Teheran justru menegaskan bahwa kendali atas Selat Hormuz kini menjadi fondasi utama dalam setiap meja perundingan. Bagi Iran, jalur maritim krusial tersebut merupakan simbol kedaulatan yang tidak dapat dikompromikan dengan tawaran ekonomi apa pun dari Amerika Serikat.

Para pengamat internasional menilai bahwa Teheran sengaja memperlambat proses gencatan senjata selama 60 hari untuk mengonsolidasikan pengaruh mereka di kawasan. Dalam pandangan strategis Iran, cadangan nuklir hanyalah isu sekunder dibandingkan dengan legitimasi politik yang mereka peroleh dari penguasaan jalur pasokan 20 persen minyak dan gas dunia. Pepatah Persia yang menyebutkan tentang keengganan menukar berlian dengan permen menjadi cerminan nyata bagaimana Iran memandang posisi tawar mereka saat ini.

Analisis dari berbagai lembaga internasional menunjukkan bahwa posisi Presiden AS, Donald Trump, justru berada di bawah tekanan untuk segera menuntaskan konflik demi stabilitas politik domestik. Situasi ini dimanfaatkan secara efektif oleh Iran untuk membalikkan keadaan. Mereka menuntut pengakuan internasional atas kedaulatan mereka di Selat Hormuz sebelum bersedia mendiskusikan persoalan program nuklir lebih lanjut.

Dampak ekonomi dari dinamika geopolitik ini pun mulai terasa nyata pada kinerja emiten di kawasan Teluk. Data dari IMF menunjukkan proyeksi pertumbuhan ekonomi di Timur Tengah merosot tajam menjadi 0,7 persen di tahun 2026, dipicu oleh disrupsi logistik dan volatilitas harga energi. Sektor perbankan dan properti di negara-negara Teluk kini menjadi pihak yang paling rentan, sementara sektor energi dan telekomunikasi menunjukkan ketahanan yang beragam di tengah ketidakpastian yang masih terus berlanjut.