Insiden meninggalnya lima peserta dalam program Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) kini tengah menjadi sorotan tajam publik. Program yang dirancang untuk membekali calon penggerak pembangunan di berbagai daerah ini kini menuai kritik terkait prosedur keselamatan dan sistem pembinaan karakter yang diterapkan bagi peserta.

Merespons situasi tersebut, dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), M. Arif Rizqi, menegaskan bahwa evaluasi tidak boleh sekadar menyentuh aspek fisik. Menurutnya, kesiapan psikologis peserta menjadi variabel krusial yang sering luput dari perhatian selama pelatihan yang bersifat intensif dan menekan.

Arif menjelaskan bahwa masyarakat umum yang menjadi peserta SPPI memiliki ketahanan mental yang berbeda dengan prajurit TNI atau anggota Polri. Proses adaptasi yang dipaksakan secara mendadak terhadap lingkungan baru dapat memicu stresor tinggi yang berdampak langsung pada penurunan imunitas tubuh, sehingga fisik peserta lebih rentan terhadap kelelahan ekstrem hingga risiko fatal.

Sebagai langkah mitigasi, ia merekomendasikan penerapan screening psikologis yang komprehensif pada tahap rekrutmen. Asesmen ini dianggap penting untuk memetakan kondisi mental setiap individu, sehingga penyelenggara dapat memberikan porsi latihan yang terukur dan disesuaikan dengan kapasitas masing-masing peserta, bukan menggunakan standar yang dipukul rata.

Selain asesmen, Arif mendesak keterlibatan tenaga profesional seperti psikolog dan psikiater dalam menyusun standar pelatihan. Ia berpendapat bahwa pembentukan resiliensi tetap bisa diupayakan tanpa mengabaikan faktor keselamatan. Pengawasan yang lebih intensif juga diperlukan agar setiap tanda penurunan kondisi fisik maupun mental peserta dapat segera diidentifikasi sejak dini.

Di akhir keterangannya, Arif mengajak masyarakat untuk tetap kritis secara konstruktif sembari menunggu hasil investigasi resmi dari pihak berwenang. Ia menekankan bahwa empati terhadap keluarga korban harus menjadi prioritas utama di tengah maraknya diskusi mengenai efektivitas dan keamanan program tersebut.