Lembaga pemeringkat kredit internasional, S&P Global Ratings, secara resmi mengumumkan keputusannya untuk mempertahankan peringkat kredit jangka panjang Indonesia pada level 'BBB' dan jangka pendek di level 'A-2'. Dengan mempertahankan outlook 'stable', S&P memberikan sinyal kepercayaan terhadap stabilitas ekonomi domestik di tengah dinamika pasar global yang menantang.

Dalam laporannya, S&P menilai bahwa berbagai tantangan fiskal dan eksternal, seperti fluktuasi nilai tukar serta tekanan suku bunga global, bersifat sementara. Lembaga tersebut meyakini bahwa langkah-langkah mitigasi pemerintah—seperti efisiensi belanja negara dan stabilisasi kebijakan komoditas—mampu menjaga defisit APBN tetap berada di koridor 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

S&P menyoroti bahwa Indonesia memiliki keunggulan kompetitif melalui prospek pertumbuhan ekonomi yang kuat dan beban utang yang relatif terkendali jika dibandingkan dengan negara-negara sebanding (peers). Optimisme ini menjadi pembeda, mengingat lembaga pemeringkat lain sebelumnya sempat memberikan catatan yang lebih konservatif terhadap outlook Indonesia.

Respons pasar domestik pun terpantau positif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penguatan sebesar 1,92 persen pada perdagangan Senin (13/7) sebagai bentuk optimisme investor. Meski demikian, tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih membayangi pasar, dan para pelaku investasi kini tengah menanti data inflasi Amerika Serikat yang dijadwalkan rilis dalam waktu dekat sebagai penentu arah kebijakan moneter global.