Jakarta, 30 Juni 2026 – Indonesia secara resmi memulai rangkaian menuju The 3rd Global Forum for Sustainable Resilience (GFSR) 2026 melalui Seminar Nasional bertajuk “Menuju Resiliensi Berkelanjutan”. Kegiatan yang diinisiasi oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Program SIAP SIAGA ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi ancaman bencana global yang kian kompleks.

Senior Program Manager Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Kedutaan Australia, Riri Silalahi, menekankan pentingnya meninggalkan pendekatan yang terfragmentasi. Menurutnya, tantangan global saat ini menuntut integrasi kebijakan yang lebih solid agar komitmen internasional tidak sekadar menjadi wacana, melainkan terealisasi dalam aksi nyata yang terukur di lapangan.

Tema sentral "Integrate the Architecture: Unifying Governance for Resilience" diusung untuk menyatukan agenda Paris Agreement, Sendai Framework, dan Sustainable Development Goals (SDGs). Penyelarasan ini krusial agar perencanaan, aspek pembiayaan, hingga implementasi kebijakan tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling memperkuat satu sama lain menuju periode pasca-2030.

Sebagai bagian dari persiapan, rangkaian dialog kebijakan (policy dialogue) akan terus digelar guna menghimpun perspektif dan praktik baik dari pemerintah, akademisi, sektor swasta, hingga masyarakat sipil. Pendekatan partisipatif ini memastikan bahwa rekomendasi yang akan dibahas pada GFSR 2026 di bulan September mendatang berbasis pada kebutuhan riil dan tantangan empiris di lapangan.

Selain dialog kebijakan, GFSR 2026 akan disandingkan dengan The 5th Asia Disaster Management and Civil Protection Expo & Conference (ADEXCO) 2026. Sinergi ini dirancang sebagai platform yang mempertemukan inovasi teknologi terkini dengan implementasi kebijakan. Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB, Dr. Raditya Jati, optimis bahwa kolaborasi ini akan mempercepat efektivitas sistem penanggulangan bencana nasional maupun global.