PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) resmi mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia pada Kamis (9/7/2026). Aksi korporasi ini menandai langkah strategis perusahaan untuk memperluas jangkauan bisnis serta memperkuat posisinya dalam industri diagnostik in vitro di Indonesia.

Dalam penawaran umum perdana saham (IPO) ini, PRDL melepas 522,9 juta lembar saham baru ke publik, yang setara dengan 30 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Dengan menetapkan harga final Rp120 per saham, perseroan membidik perolehan dana segar sebesar Rp62,75 miliar untuk membiayai pengembangan operasional dan kapasitas produksi.

Direktur Utama PRDL, Cristina Sandjaja, mengungkapkan bahwa perseroan memiliki rekam jejak panjang sebagai pionir produsen reagen kimia sejak 2012. Hingga saat ini, PRDL telah mendistribusikan lebih dari 1.083 SKU produk ke 38 provinsi di Indonesia. Keunggulan produk perseroan terletak pada Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang mencapai di atas 70 persen, menjadikannya mitra strategis bagi ribuan fasilitas kesehatan, termasuk puskesmas dan rumah sakit.

Performa keuangan perusahaan menunjukkan tren positif yang signifikan. Pada 2025, pendapatan PRDL tercatat tumbuh 27 persen menjadi Rp74,4 miliar, diikuti lonjakan laba bersih sebesar 70,7 persen menjadi Rp16,9 miliar. Efisiensi operasional yang terjaga membuat perusahaan optimistis dapat menangkap peluang dari program skrining kesehatan nasional yang menargetkan 140 juta penduduk.

Ke depannya, PRDL berkomitmen untuk terus berinovasi dalam penyediaan solusi diagnostik yang akurat dan berkualitas tinggi. Integrasi perusahaan dalam ekosistem Prodia diharapkan mampu mendukung transformasi pelayanan kesehatan masyarakat melalui penyediaan alat medis yang andal, berkelanjutan, dan kompetitif di pasar modal.