JAKARTA — Bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia, Rumah Sakit Tria Dipa Jakarta resmi meluncurkan fasilitas medis mutakhir berupa CT Scan dan Cardiac Catheterization Laboratory (Cathlab) generasi terbaru pada Senin (17/8/2026). Langkah strategis ini diambil guna memperkuat kedaulatan kesehatan (health sovereignty) nasional serta meminimalisasi ketergantungan masyarakat terhadap layanan medis di luar negeri.
Pendiri RS Tria Dipa, Wirawan Yusuf, mengungkapkan bahwa kehadiran teknologi diagnostik tingkat tinggi ini bertujuan memberikan akses layanan medis berstandar internasional secara merata di dalam negeri. Dengan visualisasi organ tubuh yang sangat detail, dokter dapat mendeteksi penyakit lebih awal dan menentukan metode penanganan yang jauh lebih presisi.
Direktur RS Tria Dipa, dr. Hartono Tanto, MARS, FISQua, menegaskan bahwa ketangguhan suatu bangsa erat kaitannya dengan kualitas kesehatan masyarakatnya. Infrastruktur baru ini, salah satunya CT Scan NAETOM Alpha.Prime berbasis teknologi Photon-Counting, diharapkan mampu menjadi lompatan besar bagi ekosistem kesehatan nasional dalam menyajikan pencitraan medis yang lebih akurat.
Secara teknis, keunggulan teknologi ini sangat krusial dalam meminimalisasi gangguan citra visual (artefak) akibat gerakan jantung yang kerap menyulitkan proses diagnosis konvensional. Selain itu, alat ini memiliki resolusi tinggi yang memudahkan dokter mengevaluasi kondisi pasang ring (stent) pasien, guna mengantisipasi risiko penyempitan pembuluh darah berulang.
Pencitraan diagnostik di RS Tria Dipa kini juga didukung oleh kecerdasan buatan (AI) dan deep learning untuk mereduksi derau (noise) pada gambar. Tidak hanya mendeteksi kelainan jantung, teknologi ini efektif untuk pemeriksaan area kepala, tulang, perut, hingga batu organ dalam. Istimewanya, alat ini mampu meminimalkan penggunaan bahan kontras, memberikan opsi diagnosis yang lebih aman bagi pasien dengan gangguan fungsi ginjal.
Integrasi CT Scan sebagai alat diagnosis dengan unit Cathlab sebagai sarana tindakan intervensi diharapkan dapat mempercepat penanganan pasien secara komprehensif. Menyangkut aksesibilitas, pihak rumah sakit saat ini tengah menyelesaikan proses administrasi agar layanan canggih berbasis teknologi terbaru ini dapat segera diakses oleh para peserta jaminan kesehatan nasional (BPJS Kesehatan).
Dalam pengadaan teknologi ini, RS Tria Dipa menjalin kemitraan strategis dengan Siemens. Perwakilan Siemens, Dodi Alva Oktanusaputra, menyatakan bahwa teknologi generasi kedua ini merupakan wujud pergeseran paradigma medis menuju pengobatan yang personal, berfokus pada pencegahan, serta deteksi dini yang presisi sebelum penyakit berkembang lebih lanjut.