Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur melakukan pemantauan berkala terhadap aktivitas penyadapan pinus di Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Jatilawang. Langkah ini diambil untuk memastikan produktivitas getah tetap optimal sekaligus menjaga kelestarian pohon pinus di kawasan tersebut.

Dalam peninjauan tersebut, petugas mengamati adanya variasi kecepatan dan volume aliran getah antarpohon, meskipun berada di lokasi yang sama. Fenomena alami ini memerlukan pemahaman khusus dari para penyadap agar perlakuan terhadap setiap pohon dapat disesuaikan dengan kondisinya masing-masing.

Mewakili Administratur KPH Banyumas Timur, Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Jatilawang, Pratikno, menjelaskan bahwa perbedaan produksi getah dipengaruhi oleh faktor biologis dan lingkungan. Faktor-faktor seperti usia pohon, diameter batang, intensitas cahaya matahari, kelembapan udara, hingga ketersediaan air di sekitar tanah sangat menentukan respons pohon terhadap penyadapan.

Getah pinus sendiri merupakan resin alami yang keluar sebagai mekanisme pertahanan saat kulit pohon disadap. Oleh karena itu, lambatnya aliran getah pada pohon tertentu tidak selalu mengindikasikan adanya kesalahan teknik, melainkan respons alami yang membutuhkan ketelitian dan pendekatan berbeda dari pekerja.

Salah satu penyadap di RPH Jatilawang, Sumarto, menunjukkan pentingnya perawatan bidang sadap dengan membersihkan sisa getah yang mengeras sebelum membuat irisan baru. Menurutnya, pembersihan dan pembaruan bidang sadap secara hati-hati sangat krusial agar aliran getah baru tidak terhambat dan kesehatan kulit pohon tetap terjaga tanpa eksploitasi berlebih.

Melalui inisiatif "Cerita Penjaga Hutan", Perhutani berkomitmen mengedukasi masyarakat dan pekerja lapangan mengenai pentingnya aspek keberlanjutan dalam pemanfaatan hasil hutan. Dengan memahami karakteristik unik setiap pohon, aktivitas penyadapan diharapkan dapat berjalan selaras dengan upaya konservasi jangka panjang.