Wakil Presiden Amerika Serikat mengungkapkan tudingan serius terhadap sejumlah pihak di dalam pemerintahan Israel. Ia menyebut adanya upaya sistematis untuk memanipulasi opini publik warga Amerika demi menggagalkan kesepakatan damai yang baru saja dicapai antara Washington dan Teheran. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah siniar (podcast) bersama Joe Rogan yang dirilis baru-baru ini.
Langkah politik ini mempertegas sikap kritis sang Wapres terhadap kebijakan militer Tel Aviv. Sebelumnya, kesepakatan awal yang diteken pada Juni lalu mendapat gelombang kritik keras dari internal AS maupun Israel. Para kritikus menilai kesepakatan tersebut tidak cukup kuat untuk menghentikan ambisi nuklir Iran dan berpotensi membatasi ruang gerak militer Israel dalam menghadapi kelompok Hizbullah di Lebanon.
Kendati demikian, ia meyakini ada motif terselubung di balik penolakan tersebut. Menurutnya, terdapat faksi tertentu di dalam pemerintahan Israel yang sengaja berupaya mengalihkan fokus AS agar kampanye militer di kawasan Timur Tengah dapat terus berlanjut tanpa batas waktu.
Lebih lanjut, ia menyatakan tidak mempermasalahkan upaya diplomasi atau lobi pengaruh dari negara asing, baik sekutu maupun rival geopolitik. Namun, batas toleransi tersebut terlampaui ketika operasi pembentukan opini tersebut mulai mendistorsi proses pengambilan keputusan politik dan penilaian strategis pemerintah Amerika Serikat.
Hubungan pertahanan yang erat dan bantuan militer masif dari Washington kepada Tel Aviv juga sempat disinggungnya sebagai penegasan komitmen AS. Ia menegaskan bahwa tanpa adanya pengaruh eksternal sekalipun, AS di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump tetap berkomitmen penuh untuk mencegah Iran memiliki senjata pemusnah massal nuklir.