Pemerintah secara resmi telah memberlakukan Keputusan Nomor 179/2026/ND-CP yang menandai perubahan paradigma dalam dukungan pendidikan tinggi. Kebijakan ini mengalihkan fokus bantuan dari institusi pendidikan langsung kepada mahasiswa berprestasi yang menempuh pendidikan di bidang ilmu dasar, teknik utama, dan teknologi strategis. Langkah strategis ini bertujuan untuk mengoptimalkan penyerapan talenta muda dalam sektor-sektor krusial bagi pembangunan nasional.
Sesuai dengan ketentuan yang berlaku sejak 15 Juli, beasiswa pemerintah ini menyasar mahasiswa yang berada di peringkat 30 persen teratas dari hasil seleksi masuk universitas. Pemberian bantuan dana pendidikan akan dilakukan secara berkala setiap tahun, dengan parameter penilaian yang didasarkan pada capaian akademik dan perilaku mahasiswa. Kementerian Pendidikan dan Pelatihan mencatat bahwa kebijakan ini menjadi instrumen penting untuk mencapai target peningkatan proporsi mahasiswa STEM hingga 35 persen pada tahun 2030.
Data menunjukkan bahwa saat ini terdapat lebih dari 475 ribu mahasiswa yang menempuh pendidikan di 15 kelompok mata kuliah prioritas. Untuk periode pendaftaran tahun 2025, proyeksi menunjukkan setidaknya 22.250 mahasiswa akan menerima manfaat dari program ini mulai September 2026. Anggaran tahunan yang dialokasikan diperkirakan mencapai 1,3 triliun VND, sebuah investasi signifikan untuk memperkuat ekosistem riset dan inovasi teknologi di berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta.
Para praktisi pendidikan menyambut baik kebijakan ini, dengan harapan bahwa stigma mengenai sulitnya mempelajari bidang sains dan teknik dapat terkikis. Profesor Dr. Nguyen Van Hieu dari Universitas Phenikaa menyatakan bahwa dukungan finansial tersebut akan menarik minat siswa dengan kemampuan analitis tinggi untuk terjun ke bidang yang vital bagi masa depan industri. Beberapa institusi besar, seperti Universitas Sains dan Teknologi Hanoi, bahkan telah mengintegrasikan program beasiswa ini ke dalam strategi penerimaan mahasiswa baru mereka untuk tahun 2026.
Meski demikian, para pakar menekankan perlunya pendekatan holistik dalam pengembangan tenaga kerja. Profesor Madya Dr. Tran Manh Cuong menyoroti bahwa di samping bantuan beasiswa, pemerintah perlu memastikan keberlanjutan investasi pada infrastruktur laboratorium dan pengembangan kualitas tenaga pengajar. Sinergi antara dukungan finansial bagi mahasiswa dan pembaruan sarana pendidikan dianggap sebagai kunci utama dalam mencetak tenaga ahli yang adaptif terhadap disrupsi teknologi di masa depan.