Sektor pariwisata Bali saat ini tengah menghadapi kontradiksi yang cukup pelik. Di tengah lonjakan angka kunjungan wisatawan mancanegara yang terlihat impresif secara statistik, industri akomodasi lokal justru didera tekanan berat akibat ketimpangan infrastruktur dan persaingan usaha yang tidak sehat.
Wakil Ketua Umum Indonesia Hotel General Manager Association (IHGMA), Agus Made Yoga Iswara, menekankan bahwa paradigma kesuksesan pariwisata Bali sudah tidak bisa lagi hanya diukur dari kuantitas kedatangan pelancong. Menurutnya, pemerintah harus segera mengalihkan fokus kerja dari sekadar mengejar volume kunjungan ke arah penciptaan nilai ekonomi yang berkelanjutan.
Yoga mengungkapkan, salah satu pemicu lesunya bisnis perhotelan resmi adalah maraknya akomodasi ilegal. Meski jumlah akomodasi terdaftar di Bali meningkat dari 12.000 menjadi 17.000 unit, masih terdapat sekitar 2.000 usaha akomodasi tidak berizin. Parahnya, sebagian dari akomodasi tersebut memanfaatkan klasifikasi izin real estate (KBLI) untuk mengoperasikan sewa harian secara ilegal, sehingga menyedot potensi pasar hotel resmi.
Menyikapi kondisi ini, integrasi data pariwisata menjadi hal yang mendesak guna memetakan pergerakan serta kontribusi riil belanja wisatawan. Yoga menyoroti pentingnya mengetahui seberapa besar nilai ekonomi yang benar-benar terserap dan dinikmati oleh masyarakat Bali sendiri, bukan hanya menjadi angka statistik nasional.
Di sisi lain, fenomena overtourism mulai nyata di sejumlah kawasan populer seperti Canggu, Uluwatu, dan Nusa Penida akibat daya dukung infrastruktur yang tertinggal dari laju pertumbuhan turis. Mengingat budaya Bali merupakan modal utama (capital culture) penghasil devisa, investasi pusat untuk merawat lingkungan dan budaya Bali sudah sepatutnya dianggap sebagai investasi jangka panjang bagi ketahanan ekonomi nasional.