Kawasan Salor di Kabupaten Merauke, Papua Selatan, kini tengah diarahkan untuk memaksimalkan potensi sagu secara lebih terintegrasi. Melalui kolaborasi antara masyarakat Kampung Tambat dan Tim Ekspedisi Patriot IPB University, komoditas pangan lokal ini didorong agar bertransformasi menjadi pilar penggerak ekonomi warga setempat melalui perintisan ekosistem bisnis terpadu.
Langkah awal pemetaan potensi dan kendala ini dilakukan melalui forum diskusi terarah atau Focus Group Discussion (FGD). Pertemuan tersebut menjadi wadah interaktif bagi warga untuk memaparkan kondisi riil di lapangan, mulai dari tantangan teknis hingga kebutuhan mendesak demi tercapainya sistem produksi sagu yang berkelanjutan.
Kepala Kampung Tambat, Samuel Haremba, menyambut baik kehadiran para akademisi ini. Dirinya berharap sinergi ini mampu menjembatani keterbatasan masyarakat dalam mengolah potensi lokal secara mandiri dan lebih produktif.
Meski sagu telah menjadi bagian tak terpisahkan dari adat dan konsumsi harian warga secara turun-temurun, pemahaman mengenai diversifikasi produk bernilai tambah masih minim. Salah satu warga, Mama Siti, mengakui bahwa masyarakat membutuhkan bimbingan teknis lebih lanjut demi mengolah pohon sagu menjadi produk turunan yang lebih bernilai ekonomi tinggi.
Saat ini, aktivitas pengolahan sagu di kampung tersebut digerakkan oleh sekitar tujuh orang warga aktif. Sejak tahun 2013, mereka mulai beralih dari metode tradisional ke penggunaan mesin parut, yang kemudian ditingkatkan dengan mesin berkapasitas lebih besar pada 2019. Sagu basah yang diproduksi biasanya dipasarkan ke Pasar Wamanggu dan Pasar Ampera dengan kisaran harga Rp200.000 hingga Rp300.000 per karung.
Namun, roda produksi ini kerap terhambat oleh keterbatasan pasokan air bersih, terutama saat musim kemarau, serta fluktuasi permintaan pasar. Akibatnya, proses pengolahan sagu terkadang hanya dapat dilakukan dua kali dalam sebulan. Hambatan air ini juga berdampak pada sektor lain, seperti budidaya ikan lele yang tengah dirintis warga.
Selain bertani sagu, masyarakat Kampung Tambat sebenarnya telah mengupayakan komoditas lain seperti sayur sawi dan ubi untuk konsumsi mandiri dan dijual kembali. Di sektor olahan sagu, warga juga sempat mencoba memproduksi kue sagu keju, sagu gulung, hingga pentol bakso. Sayangnya, keterbatasan alat produksi dan minimnya akses pasar membuat inovasi pangan ini belum dapat berkembang maksimal.
Ke depan, konsep ekosistem bisnis terpadu ini juga dirancang untuk memanfaatkan limbah ampas sagu. Ampas yang melimpah tersebut dinilai potensial untuk diolah kembali menjadi media tanam jamur atau bahan pakan ternak. Dengan dukungan teknologi tepat guna dan pendampingan berkala, komoditas sagu di Papua Selatan diharapkan mampu menjadi jangkar ekonomi yang menyejahterakan masyarakat setempat secara holistik.