Sering kali, rasa lelah dan napas yang terengah-engah setelah melakukan aktivitas fisik ringan—seperti menaiki anak tangga atau berjalan cepat—dianggap sebagai hal yang lumrah akibat kelelahan biasa. Padahal, bagi individu dengan riwayat merokok, kondisi ini berpotensi menjadi alarm peringatan dini adanya gangguan serius pada sistem pernapasan yang memerlukan pemeriksaan medis lebih lanjut.
Dokter Spesialis Paru dari Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof. Erlina Burhan, mengungkapkan bahwa kerusakan organ paru akibat paparan asap rokok kerap berlangsung secara senyap. Seseorang bahkan sering kali tidak menyadari penurunan fungsi pernapasannya sampai kerusakan tersebut mencapai tahap yang signifikan.
Melalui penjelasan ilmiahnya, Prof. Erlina menguraikan bagaimana zat racun dalam rokok merusak sistem pertahanan paru. Tahap pertama dimulai dari lumpuhnya silia, yaitu rambut-rambut halus yang berfungsi menyaring dan menyapu lendir serta kotoran keluar dari saluran pernapasan. Akibat kelumpuhan silia ini, lendir menumpuk di saluran napas, memicu peradangan kronis, dan menyebabkan intensitas batuk meningkat.
Kerusakan tidak berhenti di situ. Racun dari asap rokok terus merangsek masuk hingga mencapai alveoli, kantung-kantung udara kecil yang krusial bagi proses pertukaran oksigen dan karbon dioksida. Paparan zat berbahaya secara terus-menerus merusak dinding alveoli dan mengikis kelenturannya, sehingga tubuh kesulitan menyerap oksigen secara optimal, terutama saat melakukan aktivitas fisik.
Jika kondisi peradangan dan kerusakan ini dibiarkan tanpa penanganan dalam jangka panjang, risiko terkena Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) akan meningkat drastis. Penyakit ini memicu penyempitan permanen pada saluran napas, yang pada akhirnya secara signifikan menurunkan kualitas hidup penderitanya akibat kesulitan bernapas yang kronis.