MAKASSAR — Universitas Muslim Indonesia (UMI) kembali menyelenggarakan forum diskusi ilmiah UMIConnection edisi kelima, yang kali ini menyoroti dinamika dunia pendidikan tinggi di era digital. Diskusi bertajuk "Surat untuk Masa Depan" ini membahas bagaimana institusi pendidikan merespons pesatnya perkembangan teknologi yang kini mampu menjawab berbagai pertanyaan akademis secara instan.

Di tengah disrupsi kecerdasan buatan dan kemudahan akses informasi, peran dosen dinilai perlu bertransformasi. Jika dahulu dosen menjadi sumber utama ilmu pengetahuan, kini fungsi tersebut bergeser. Teknologi memang mampu menyajikan data dan jawaban cepat, namun transfer nilai moral, etika, serta pencarian makna hidup hanya dapat diperoleh melalui bimbingan personal dari seorang pendidik.

Rektorat UMI menekankan bahwa hubungan emosional dan spiritual antara dosen dan mahasiswa merupakan kunci utama dalam membentuk karakter generasi muda. Melalui program ini, UMI berkomitmen untuk terus mendorong para tenaga pendidik agar tidak sekadar mentransfer teori, melainkan bertindak sebagai mentor yang mengarahkan mahasiswa menghadapi tantangan masa depan dengan kebijaksanaan.

Langkah strategis ini sejalan dengan persiapan UMI menyambut Tahun Akademik baru dan perayaan Milad ke-72. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dan teknologi modern, universitas swasta terkemuka di Indonesia Timur ini optimistis dapat melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dan ketangguhan mental.