Keputusan lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings untuk mempertahankan prospek stabil utang Indonesia memberikan angin segar bagi pasar modal dalam negeri. Kebijakan ini dinilai efektif meredam tekanan premi risiko yang selama ini membayangi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia.
Merespons kondisi makroekonomi yang kondusif tersebut, BRI Danareksa Sekuritas optimistis menetapkan target jangka panjang IHSG di level 7.200. Proyeksi ini didasarkan pada rasio harga terhadap laba (PE) sebesar 10 kali serta pertumbuhan laba per saham (EPS) yang diperkirakan mencapai 8 persen pada periode mendatang.
Tim analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan dan Wilastita Muthia Sofi, menilai valuasi bursa domestik saat ini yang berada di posisi PE 9,1 kali mencerminkan sikap pasar yang terlampau khawatir. Menurut mereka, angka tersebut kurang realistis karena seolah mengisyaratkan adanya ancaman penurunan peringkat kedaulatan yang parah atau pertumbuhan laba korporasi yang negatif.
Pandangan senada diungkapkan oleh Pendiri Republik Investor, Hendra Wardana. Ia menekankan bahwa dipertahankannya rating utang Indonesia pada level BBB dengan prospek stabil menjadi fondasi krusial yang menjaga IHSG tetap kokoh di atas level psikologis 6.000. Langkah S&P ini dinilai mengirimkan sinyal positif kepada investor global mengenai ketahanan fiskal dan stabilitas sektor keuangan nasional.
Meski sentimen domestik cukup kuat, Hendra mengamati bahwa aliran modal asing belum masuk secara agresif. Sebagian besar investor global terpantau masih mengambil sikap waspada dan cenderung menunggu perkembangan pasar lebih lanjut sebelum mereformulasikan portofolio investasi mereka.
Pada penutupan perdagangan, IHSG menguat tipis sebesar 0,03 persen atau naik 1,68 poin ke posisi 6.039. Transaksi harian tercatat cukup aktif dengan volume mencapai 27,9 miliar lembar saham senilai Rp16,4 triliun, di mana sebanyak 439 saham menguat, 217 saham melemah, dan 309 saham bergerak stagnan.