Dunia bisnis saat ini tengah mengalami pergeseran paradigma yang signifikan akibat gelombang transformasi digital dan tuntutan standar pembangunan hijau yang semakin ketat. Perusahaan tidak lagi hanya dituntut untuk efisien secara operasional melalui integrasi Kecerdasan Buatan (AI), tetapi juga harus mampu memenuhi kriteria keberlanjutan serta pengurangan emisi yang menjadi tolok ukur daya saing daerah saat ini.

Di sisi lain, sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM) masih kerap terkendala oleh keterbatasan akses permodalan, kesenjangan teknologi, dan minimnya konektivitas pasar. Menanggapi tantangan tersebut, BNI Vietnam menggelar "BNI Vietnam Summit 2026" di Nghe An yang mengusung semangat 'Accelerate' guna memfasilitasi percepatan pertumbuhan bisnis melalui jejaring strategis.

Country Director BNI Vietnam, Christine Ho Thuy Hong Phuc, menekankan bahwa di tengah pesatnya otomasi, integritas dan kepercayaan tetap menjadi fondasi utama bagi perusahaan. Jaringan yang solid tidak hanya menjadi sarana untuk meningkatkan kapasitas manajemen, tetapi juga menjadi instrumen krusial bagi UKM untuk beradaptasi dengan fluktuasi pasar yang dinamis.

Dalam rangkaian acara tersebut, diselenggarakan Mega Chapter Meeting yang mempertemukan lebih dari 200 pengusaha untuk mengeksplorasi potensi kemitraan lintas sektor. Selain itu, pameran UKM Expo dengan 48 stan dihadirkan sebagai pintu masuk bagi pelaku usaha lokal untuk membuka akses ke pasar internasional sekaligus memperkenalkan produk mereka kepada mitra potensial dari mancanegara.

Pendiri BNI Vietnam, Michael Ho Quang Minh, menyimpulkan bahwa teknologi hanyalah alat pendukung; esensi dari kemitraan jangka panjang tetap berakar pada kualitas sumber daya manusia dan budaya bisnis yang inklusif. Dengan terhubung dalam ekosistem yang tepat, diharapkan UKM dapat meningkatkan daya saingnya dan mengambil peran lebih dominan dalam rantai nilai perdagangan domestik maupun global.