Pasar aset kripto global kembali mencatatkan tren negatif setelah nilai Bitcoin mengalami kontraksi lebih dari 3% pada perdagangan Rabu. Aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar ini sempat terperosok ke bawah level US$62.000 di sesi awal bursa London, mengakhiri tren pengabaian pasar terhadap isu penjualan token yang terjadi sebelumnya.

Tekanan jual ini dipicu secara langsung oleh meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi pasar menjadi volatil setelah mantan Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata sementara dengan Iran telah berakhir, sebuah narasi yang memicu spekulasi akan potensi konflik militer yang lebih luas.

Caroline Mauron, salah satu pendiri Orbit Markets, menjelaskan bahwa sentimen negatif ini berakar dari kecemasan investor terhadap dampak ekonomi yang ditimbulkan. Ketegangan yang memuncak meningkatkan kekhawatiran akan lonjakan harga bahan bakar yang dapat mendorong inflasi, yang pada akhirnya memicu ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan.

Lebih lanjut, dampak dari ketidakpastian makroekonomi ini tidak hanya dirasakan oleh Bitcoin, melainkan juga menekan performa aset kripto lain seperti Ether dan Solana. Analis memperkirakan level dukungan teknis Bitcoin saat ini berada di kisaran US$61.500, namun potensi volatilitas tinggi diperkirakan akan terus berlanjut seiring perkembangan dinamika situasi di Timur Tengah.