Presiden Amerika Serikat melayangkan kritik terbuka terhadap aliansi NATO saat menghadiri KTT di Ankara, Rabu (8/7/2026). Dalam pertemuan tersebut, ia menyampaikan kekecewaan mendalam atas kurangnya dukungan sekutu dalam menghadapi Iran, yang ia sebut sebagai sponsor utama terorisme. Menurutnya, aliansi tersebut telah memperlakukan Amerika Serikat secara tidak adil dengan membebankan biaya pertahanan yang tidak proporsional demi melindungi Eropa dari ancaman Rusia.
Ketegangan juga memuncak saat ia secara khusus menargetkan Spanyol. Sang Presiden melabeli Spanyol sebagai mitra yang tidak kooperatif karena dianggap minim partisipasi dan gagal memenuhi kewajiban finansial dalam aliansi. Ia bahkan memerintahkan Menteri Keuangan AS untuk menghentikan segala aktivitas perdagangan dengan negara tersebut sebagai bentuk sanksi atas ketidakpatuhan mereka.
Selain masalah keamanan dan ekonomi, ia kembali menegaskan ambisi lama Amerika Serikat untuk menguasai Greenland. Ia berpendapat bahwa pulau milik Denmark tersebut memiliki nilai strategis yang krusial bagi perlindungan global. Meskipun Sekjen NATO, Mark Rutte, mencoba menengahi dengan menekankan kesepakatan dialog mengenai kehadiran AS di Arktik, posisi Denmark tetap konsisten bahwa wilayah Greenland tidak untuk dijual.
Di sisi lain, para sekutu NATO berupaya memanfaatkan forum KTT ini untuk meredam kekesalan Washington. Mereka berusaha meyakinkan pihak Amerika bahwa komitmen peningkatan anggaran pertahanan tetap berjalan, seraya berupaya menjaga stabilitas internal di tengah retorika keras yang dilontarkan oleh Presiden Amerika Serikat tersebut.