JAKARTA — Kesibukan sebagai tenaga medis tidak menghalangi dr. Melanie Yudiana Iskandar, Sp.A., untuk menjaga konsistensi berolahraga hingga menembus kompetisi Hyrox tingkat global. Di sela rutinitasnya melayani pasien anak di poliklinik, ia tetap menjalani program latihan fisik berintensitas tinggi secara terukur.
Bagi banyak orang, jadwal praktik yang padat kerap menjadi alasan untuk mengurangi aktivitas pribadi, termasuk olahraga. Namun, dokter spesialis anak berusia 47 tahun itu justru menjadikan olahraga sebagai bagian penting dari hidupnya, bukan semata demi penampilan fisik.
“Tujuan dari semua latihan saya adalah untuk meningkatkan performance. Aktivitas olahraga saya punya maksud dan tujuan yang lebih berarti, tidak sebatas mengejar bentuk badan yang bagus,” ujar dr. Melanie saat ditemui di RESET Social Club SCBD, Jakarta Selatan, Jumat (26/6/2026).
Kecintaan Melanie terhadap aktivitas fisik bukan muncul secara tiba-tiba. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan latihan yang membutuhkan kedisiplinan. Saat masih duduk di taman kanak-kanak, ia rutin mengikuti les renang pada pukul 05.00 pagi dan berlatih balet hingga enam kali dalam sepekan.
Intensitas olahraga tersebut sempat berkurang ketika ia menjalani pendidikan kedokteran. Namun, pada 2014, Melanie kembali membangun kebiasaan aktif melalui latihan beban dan high intensity interval training (HIIT). Dari sana, ia mulai menapaki latihan yang lebih spesifik hingga akhirnya serius menekuni Hyrox.
Hyrox dikenal sebagai kompetisi kebugaran yang menggabungkan lari dengan berbagai tantangan kekuatan dan daya tahan. Format lomba ini menuntut peserta memiliki kemampuan fisik menyeluruh, mulai dari stamina, kekuatan otot, hingga mental yang stabil.
Melanie, yang tergabung dalam tim Hystoric, menyebut motivasinya berolahraga berangkat dari kecintaan pribadi. “Sebenarnya, alasan saya melakukan semua ini cukup simple. It’s my passion and I’m living my dream,” katanya.
Ia menyadari bahwa tubuhnya tidak lagi semuda atlet-atlet belia. Karena itu, ia berusaha menjaga keseimbangan antara ambisi, kemampuan fisik, dan pemulihan. “Saya cuma berharap, badan saya yang sebenarnya sudah tidak muda lagi bisa cukup sabar dan kuat untuk mengikuti kemauan saya,” ujarnya.
Menjalani profesi sebagai dokter sekaligus atlet amatir menuntut pengaturan waktu yang ketat. Melanie harus menyesuaikan jadwal latihan dengan jam praktik, kebutuhan keluarga, serta waktu istirahat. Karena itu, ia sering memulai hari jauh lebih pagi dibanding kebanyakan orang.
“Olahraga mungkin orang lain jam tujuh, jam delapan, baru pada bangun, minum kopi segala macam. Ya saya harus bangun jam empat pagi, jam lima pagi, biar bisa punya waktu untuk bisa training,” tutur Melanie.
Perjalanan menuju kompetisi tidak selalu berjalan mulus. Menjelang penampilan pertamanya di kategori Open pada November 2024, ia mengalami cedera partial tear pada area hip flexor, bagian tubuh yang berperan penting dalam gerakan berlari.
Meski cedera, Melanie tetap mampu menyelesaikan perlombaan. Ia mengaku dorongan adrenalin saat bertanding membantunya melewati rasa sakit. Namun, kondisi tubuhnya memburuk setelah lomba berakhir.
Akibat memaksakan diri, ia sempat tidak dapat berjalan dengan normal dan harus menjalani fisioterapi selama dua bulan. Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa pencapaian olahraga perlu dibarengi dengan kesadaran terhadap batas kemampuan tubuh.
Kisah Melanie menunjukkan bahwa komitmen terhadap olahraga dapat dijalani meski seseorang memiliki profesi dengan tuntutan tinggi. Dengan disiplin, pengelolaan waktu, dan tujuan yang jelas, aktivitas fisik dapat menjadi bagian dari gaya hidup yang berkelanjutan.