YOGYAKARTA - PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk kembali menegaskan posisinya sebagai pionir dalam industri jamu ramah lingkungan. Perusahaan jamu terkemuka ini berhasil menyabet penghargaan bergengsi sebagai Pelopor Industri Herbal Berkelanjutan & Kemitraan Lokal dalam ajang Jogja Brand and Business Awards (JBBA) 2026 yang diselenggarakan di Kasultanan Ballroom Royal Ambarrukmo Yogyakarta.

Direktur Utama PT Sido Muncul Tbk, Irwan Hidayat, menyampaikan apresiasi mendalam atas pencapaian ini. Menurutnya, penghargaan tersebut menjadi stimulus penting bagi perusahaan untuk terus menyempurnakan program kemitraan dengan para petani herbal lokal yang telah dirintis sejak tahun 1998, jauh sebelum era reformasi bergulir.

Kolaborasi erat dengan para petani ini awalnya dipicu oleh tantangan pemenuhan bahan baku herbal yang berkualitas dan terstandar. Sebelum program ini berjalan, ketergantungan pada pengepul sering kali memicu ketidakpastian mutu, ditambah menyusutnya area hutan sebagai sumber tanaman liar. Melalui program pembinaan yang terintegrasi, Sido Muncul berkolaborasi dengan lembaga riset untuk menentukan bibit unggul serta metode budidaya yang konsisten di berbagai daerah seperti Semarang, Purwokerto, dan Wonosobo.

Kini, dari total kapasitas produksi harian sebesar 50 ton bahan baku herbal, sekitar 60 persen atau setara 30 ton dipasok langsung oleh para petani binaan. Peran aktif Sido Muncul sebagai pembeli siaga (offtaker) tidak hanya memberikan kepastian serapan pasar bagi petani, tetapi juga berdampak signifikan pada peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat perdesaan.

Selain pemberdayaan sosial, aspek keberlanjutan lingkungan juga diwujudkan melalui implementasi konsep nir-sampah (zero waste) secara menyeluruh di area produksi. Sido Muncul memanfaatkan sisa ampas jamu sebagai bahan bakar pembangkit uap (steam boiler). Kebutuhan energi operasional pabrik pun disokong oleh sumber energi bersih seperti panel surya, gas alam terkompresi (CNG), pelet kayu, serta listrik nonsubsidi.

Langkah inovatif lainnya adalah pengembangan wisata kebugaran (wellness tourism) di kompleks pabrik Ungaran, Jawa Tengah, yang telah dimulai sejak tahun 2003. Destinasi edukasi ini kini dikunjungi sekitar 100 ribu orang per tahun dari berbagai wilayah di Indonesia untuk melihat langsung proses produksi herbal modern. Potensi besar ini diharapkan dapat terus didukung oleh pemerintah guna memperkuat sektor pariwisata berbasis kesehatan di Jawa Tengah.