Lembaga Pengelola Investasi (INA) berhasil mencatatkan performa keuangan yang impresif sepanjang tahun 2025. Sovereign wealth fund milik Indonesia ini membukukan laba bersih sebesar Rp7,4 triliun, angka yang menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 37,3% atau setara Rp2,02 triliun dibandingkan perolehan pada tahun sebelumnya.
Kenaikan laba tersebut ditopang oleh lonjakan pendapatan sebesar 43% (yoy) menjadi Rp8,45 triliun. Kontributor utama pertumbuhan ini bersumber dari pendapatan dividen sebesar Rp4,8 triliun, pendapatan bunga sebesar Rp2 triliun, serta keuntungan nilai wajar investasi subholding yang mencapai Rp1,7 triliun. Selain itu, langkah strategis dalam menekan ongkos pembiayaan dan efisiensi biaya operasional dinilai menjadi katalis utama keberhasilan keuangan INA tahun ini.
Tak hanya laba, penghasilan komprehensif INA juga menunjukkan tren positif dengan berbalik untung sebesar Rp675,5 miliar, setelah sebelumnya sempat mengalami kerugian. Capaian ini sekaligus mencerminkan perbaikan signifikan dari total kerugian komprehensif tahun sebelumnya yang sempat menyentuh angka Rp11,6 triliun.
Dalam kancah investasi nasional, INA mencatatkan total investasi bersama mitra strategis mencapai Rp74,5 triliun, meningkat dibandingkan Rp60,9 triliun pada tahun 2024. Sektor infrastruktur, transportasi, dan logistik menjadi destinasi kucuran modal terbesar dengan nilai mencapai Rp2,6 triliun, disusul oleh sektor kesehatan, material maju (advanced material), pendidikan, dan infrastruktur digital.
Hingga akhir 2025, INA mencatatkan aset sebesar Rp111 triliun dengan total dana kelolaan atau Asset Under Management (AUM) bersama mitra investor mencapai Rp146,2 triliun. Pencapaian ini mengukuhkan posisi INA sebagai pilar penting dalam pendanaan proyek-proyek strategis nasional di tengah tantangan ekonomi global.