Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah harga minyak mentah Brent melonjak signifikan hingga mendekati level US$87,3 per barel. Kenaikan tajam ini dipicu oleh kebijakan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang mengumumkan rencana blokade laut terhadap Iran di Selat Hormuz serta penerapan tarif masuk sebesar 20 persen bagi kapal kargo yang melintasi jalur krusial tersebut.

Langkah unilateral Washington ini melarang seluruh aktivitas pelayaran Iran dan mitranya melewati Selat Hormuz, sementara negara lain dikabarkan tetap diizinkan melintas. Menanggapi ancaman tersebut, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan posisi negaranya sebagai penjaga keamanan selat dan menyatakan bahwa mereka berhak atas kompensasi yang adil, seraya menyindir besaran tarif yang diusulkan AS terlalu tinggi.

Sebagai langkah nyata, Joint Maritime Information Center melaporkan kekuatan militer AS mulai menerapkan blokade di sepanjang garis pantai dan pelabuhan Iran. Eskalasi ini diperparah oleh serangan udara beruntun militer AS ke wilayah Iran yang telah berlangsung selama tiga hari berturut-turut dan diprediksi masih akan berlanjut.

Bagi perekonomian domestik Indonesia, lonjakan harga minyak global ini membawa alarm kewaspadaan. Tingginya harga komoditas energi tersebut berpotensi memperlebar defisit neraca perdagangan akibat membengkaknya impor minyak, yang pada gilirannya dapat menekan nilai tukar rupiah serta menambah beban subsidi energi pada APBN.

Meski demikian, pasar keuangan Indonesia saat ini masih menunjukkan resiliensi yang cukup baik. Sentimen positif dari ulasan lembaga pemeringkat S&P Global Ratings berhasil menopang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah untuk tetap ditutup di zona hijau. Kini, para pelaku pasar global tengah mengalihkan perhatian pada rilis data inflasi AS mendatang guna memetakan arah kebijakan suku bunga The Fed.