Piala Dunia 2026 tidak hanya menjadi panggung persaingan talenta sepak bola dunia, tetapi juga ruang pamer bagi inovasi teknologi mutakhir. Turnamen yang diselenggarakan di tiga negara—Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko—ini secara masif mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) serta perangkat digital. Namun, kehadiran teknologi super canggih ini rupanya belum mampu meredam perdebatan, membuktikan bahwa keputusan akhir di lapangan hijau tetap bertumpu pada interpretasi manusia.
Salah satu sorotan utama adalah penerapan sistem semi-automated offside technology (SAOT) yang disempurnakan dari edisi sebelumnya. Mengandalkan kamera pelacak berkecepatan tinggi di atap stadion dan sensor inertial measurement unit (IMU) di dalam bola, sistem ini mampu mendeteksi offside dalam hitungan detik. Meskipun dirancang untuk meminimalkan waktu tunggu, penggunaan VAR yang mendampingi teknologi ini justru kerap melahirkan keputusan yang dinilai kontroversial.
Kasus mencolok terjadi kala Argentina berhadapan dengan Mesir di babak 16 besar. Gol pemain Mesir, Mostafa Ziko, dianulir oleh VAR akibat dugaan pelanggaran sebelum proses terjadinya gol. Kekecewaan kubu Mesir memuncak ketika klaim penalti untuk Mohamed Salah diabaikan tak lama sebelum Argentina mengunci kemenangan 3-2. Pelatih Mesir, Hossam Hassan, secara terbuka mengkritik inkonsistensi wasit dalam memanfaatkan tinjauan video tersebut.
Kontroversi serupa terulang di fase perempat final yang kembali melibatkan Argentina. Pemain Swiss, Breel Embolo, diganjar kartu kuning kedua setelah wasit Joao Pinheiro meninjau VAR dan menganggapnya melakukan simulasi (diving). Keputusan kontroversial ini memaksa Swiss bermain dengan sepuluh orang, memicu kecaman keras dari sang pelatih, Murat Yakin, yang menilai keputusan tersebut telah merusak jalannya pertandingan.
Di sisi lain, goal line technology (GLT) tetap menjadi instrumen paling andal karena bekerja secara otomatis tanpa memerlukan interpretasi wasit. Selain itu, guna menghadapi suhu ekstrem di Amerika Serikat yang sempat menembus 35 derajat Celsius, FIFA menerapkan teknologi pemantauan kondisi fisik pemain secara langsung, mulai dari pemantau detak jantung hingga analisis beban kerja berbasis GPS.
Tak hanya di atas lapangan, pemanfaatan kecerdasan buatan kini merambah ke ruang ganti untuk membantu staf pelatih menganalisis data performa tim lawan segera setelah laga usai. Sementara bagi para pemirsa layar kaca, kehadiran grafis berbasis augmented reality (AR) dan prediksi probabilitas gol secara real-time memberikan dimensi baru dalam menikmati siaran pertandingan sepak bola modern.