Tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah mencapai terobosan signifikan dalam studi mitigasi bencana dengan mengungkap jejak geokimia tsunami Aceh tahun 2004 yang selama ini tersimpan dalam lapisan tanah. Menggunakan teknologi mutakhir Laser-Induced Breakdown Spectroscopy (LIBS), para ilmuwan mampu mengidentifikasi komposisi kimia endapan tsunami secara presisi dan cepat, jauh melampaui kemampuan metode analisis konvensional.
Penelitian yang dipimpin oleh Rara Mitaphonna dari Pusat Riset Fotonika BRIN ini melakukan observasi mendalam di Desa Pulot, Aceh Besar. Hasil analisis menunjukkan adanya pola unik unsur kimia laut seperti stronsium, barium, natrium, dan kalsium yang tersimpan secara terstruktur. Temuan yang telah diterbitkan dalam Microchemical Journal tersebut memberikan bukti otentik yang membedakan material endapan tsunami dengan lapisan tanah alami yang umumnya didominasi oleh unsur besi, aluminium, dan mangan.
Teknologi LIBS bekerja dengan menembakkan pulsa laser berenergi tinggi ke sampel tanah, yang kemudian memicu munculnya plasma dengan spektrum cahaya khas. Cahaya ini berfungsi layaknya sidik jari yang mampu mengidentifikasi berbagai unsur kimia dalam waktu singkat, yakni hitungan mikrodetik. Keunggulan utama metode ini terletak pada efisiensinya karena tidak memerlukan proses preparasi sampel yang rumit atau pelarutan kimia di laboratorium, sehingga sangat memungkinkan untuk diaplikasikan langsung di lapangan.
Penerapan teknologi ini diharapkan menjadi fondasi krusial bagi pemerintah dalam menyusun peta bahaya tsunami dan perencanaan tata ruang pesisir yang lebih tangguh. Ke depan, pengembangan perangkat LIBS versi portabel diproyeksikan akan menjadi standar baru dalam mempercepat survei geokimia di berbagai kawasan rawan bencana di seluruh wilayah Indonesia, guna meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi ancaman tsunami di masa mendatang.