Penemuan koloni kerang Manila (Ruditapes philippinarum) di sepanjang pesisir Atlantik barat laut, khususnya di kawasan Cape Cod dan Boston, memicu perhatian serius dari kalangan akademisi dan peneliti lingkungan. Spesies kerang konsumsi yang bernilai ekonomi sangat tinggi ini kini dilaporkan mulai membentuk populasi menetap di wilayah yang sebelumnya bersih dari keberadaan mereka.
Identifikasi awal keberadaan spesies asing ini bermula dari laporan nelayan lokal di Provincetown pada tahun 2023 yang menemukan jenis kerang yang tidak biasa. Laporan tersebut ditindaklanjuti oleh para peneliti dari University of Massachusetts Amherst, MIT Sea Grant, dan Center for Coastal Studies yang kemudian mengonfirmasi keberadaan serta aktivitas reproduksi aktif dari kerang Manila di habitat barunya pada kurun waktu 2025 hingga 2026.
Secara global, kerang Manila merupakan komoditas ekspor perikanan yang sangat bernilai, dengan estimasi pasar mencapai 7 miliar dolar AS atau setara Rp126 triliun per tahun. Meskipun berasal dari perairan Asia Timur, seperti Jepang dan Rusia, ketahanan ekologisnya membuat spesies ini mampu bermigrasi dan beradaptasi dengan cepat di berbagai belahan bumi utara.
Kendati mendatangkan potensi keuntungan ekonomi, para ilmuwan mengkhawatirkan dampak ekologis jangka panjang dari invasi ini. Kerang Manila dikhawatirkan akan memicu perebutan ruang hidup dan sumber makanan dengan kerang lokal, bahkan berpotensi mengubah struktur rantai makanan pesisir melalui proses hibridisasi dan dominasi populasi.
Di sisi lain, kehadiran kerang ini juga dapat bertindak sebagai mangsa baru bagi predator lokal seperti kepiting hijau, sehingga berpotensi mengurangi tekanan predasi terhadap kerang bercangkang lunak asli wilayah tersebut. Saat ini, tim peneliti tengah fokus melakukan pemetaan persebaran dan memantau pola interaksi spesies ini guna meminimalisasi kerusakan ekosistem laut New England.