Koperasi Merah Putih (Kopdes) Melawai yang berlokasi di Jakarta Selatan tengah menghadapi tantangan finansial yang cukup berat pada masa awal operasionalnya. Dalam kurun waktu enam bulan pertama sejak didirikan, koperasi ini baru berhasil membukukan Sisa Hasil Usaha (SHU) sebesar Rp78.000. Angka yang minim ini berdampak langsung pada kesejahteraan pengurus yang hingga kini belum mendapatkan bayaran.
Manajer Koperasi Merah Putih Melawai, Paiman, menjelaskan bahwa kondisi keuangan tersebut mencerminkan realitas bisnis yang dirintis tanpa modal awal. Guna menyiasati keterbatasan dana, pihak koperasi terpaksa menerapkan sistem konsinyasi atau titip jual dengan para pemasok barang. Sistem ini dinilai aman dari risiko kerugian besar, namun di sisi lain membatasi ruang gerak koperasi untuk meningkatkan margin keuntungan karena tidak dapat melakukan pembelian barang secara putus.
Saat ini, rata-rata omzet harian koperasi masih berada di bawah Rp1 juta, dengan profit harian yang fluktuatif di kisaran Rp100.000. Pendapatan bersih harian tersebut langsung tersedot untuk membiayai kebutuhan operasional dasar, mulai dari pembelian tinta printer, biaya parkir, hingga upah bagi dua orang karyawan operasional sebesar Rp2 juta per bulan, yang secara regulasi masih di bawah Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta.
Kondisi keuangan yang serbaterbatas ini memaksa para pengurus untuk bekerja tanpa gaji selama setengah tahun terakhir. Pasalnya, pendapatan pengurus hanya bersumber dari pembagian SHU yang nilainya saat ini tidak mencukupi untuk dibagikan. Kendati dihadapkan pada situasi sulit ini, manajemen koperasi menaruh harapan besar bahwa performa bisnis mereka akan mengalami perbaikan signifikan pada tahun depan seiring berjalannya waktu dan penguatan pasar.