Euforia kecerdasan buatan (AI) yang tengah melanda pasar modal global saat ini memicu kekhawatiran di kalangan pengamat ekonomi. Banyak ahli melihat adanya pola yang serupa dengan ledakan era internet pada akhir tahun 1999, di mana valuasi perusahaan teknologi melambung tinggi hingga mencakup 55 persen dari total kapitalisasi pasar Amerika Serikat, dengan sektor semikonduktor menyumbang 20 persen di antaranya.

Konsentrasi pasar yang sangat terpusat pada sektor teknologi ini dinilai lebih ekstrem dibandingkan era dot-com terdahulu. Kondisi ini meningkatkan potensi risiko sistemik, terutama terkait pola pembiayaan vendor besar seperti langkah strategis Oracle yang mengalokasikan investasi hingga 300 miliar dolar AS ke OpenAI. Para analis memperingatkan bahwa paralel sejarah ini dapat menjadi indikasi bahwa pasar sedang berada di fase akhir dari sebuah gelembung teknologi.

Di sisi lain, performa Oracle sendiri menjadi sorotan tajam di tengah dinamika pasar. Meskipun saham perusahaan sempat mengalami tekanan tahun ini akibat besarnya biaya infrastruktur cloud, fundamental Oracle tetap menunjukkan ketahanan yang signifikan. Perusahaan melaporkan pertumbuhan pendapatan sebesar 21 persen secara tahunan dengan kenaikan arus kas operasi mencapai 54 persen pada kuartal IV dan fiskal 2026.

Ketangguhan Oracle didukung oleh backlog kontrak senilai 638 miliar dolar AS yang terjamin secara kontraktual. Kepercayaan investor tetap terjaga karena visibilitas pendapatan yang kuat, yang didorong oleh integrasi AI dalam infrastruktur cloud serta inisiatif inovasi strategis seperti kolaborasi dengan IMSA Labs. Meski pasar bergejolak, fundamental yang solid ini menjadi penyeimbang di tengah ketidakpastian valuasi sektor teknologi di masa depan.