Penyakit kardiovaskular, termasuk stroke dan jantung koroner, masih menduduki peringkat pertama penyebab kematian di Indonesia. Menyikapi hal ini, Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. dr. Anggoro Budi Hartopo, menyerukan urgensi pergeseran fokus layanan kesehatan dari kuratif menuju preventif dan rehabilitatif demi menyelamatkan generasi mendatang.
Dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Bidang Jantung dan Pembuluh Darah, Prof. Anggoro menyoroti bahwa penanganan medis di Indonesia saat ini masih didominasi oleh pengobatan tahap akhir atau kuratif. Padahal, dengan rentang waktu perkembangan penyakit yang panjang, deteksi dini terhadap faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, dan kebiasaan merokok dapat menekan laju kasus secara signifikan sebelum berkembang menjadi kondisi kritis.
Salah satu langkah krusial dalam pencegahan sekunder adalah layanan rehabilitasi kardiovaskular, yang terbukti mampu menurunkan angka kematian pasien hingga 25 persen. Program latihan fisik yang terstruktur bagi penderita gagal jantung, baik di bawah pengawasan langsung di rumah sakit maupun secara mandiri melalui pemantauan jarak jauh, terbukti secara klinis meningkatkan kapasitas fisik dan memperbaiki kondisi jantung pasien secara bertahap.
Kendati memiliki manfaat yang besar bagi pemulihan pasien, layanan rehabilitasi jantung di Indonesia saat ini masih belum tersebar merata di seluruh pusat pelayanan kesehatan. Prof. Anggoro berharap pemerintah dan sektor terkait dapat memanfaatkan inovasi teknologi untuk memperluas aksesibilitas layanan ini bagi masyarakat luas, yang diiringi dengan investasi riset serta penguatan kapasitas pendidikan medis secara berkelanjutan.