CEO Tesla dan SpaceX, Elon Musk, secara terbuka menyampaikan penyesalannya karena telah terlibat terlalu jauh dalam dinamika politik Amerika Serikat. Pengakuan mengejutkan ini disampaikannya dalam wawancara mendalam dengan majalah The Economist yang terbit pada Juli 2026. Langkah politiknya, terutama saat memotori agenda efisiensi anggaran di bawah pemerintahan Donald Trump, diakuinya telah melampaui batas kepatutan yang ia tetapkan sendiri.
Keterlibatan Musk yang paling mencolok terjadi ketika ia memimpin program Department of Government Efficiency (DOGE). Program ini dirancang untuk menekan defisit anggaran federal melalui pemangkasan pengeluaran negara secara drastis. Namun, alih-alih hanya berfokus pada efisiensi birokrasi, inisiatif tersebut justru memicu polarisasi tajam dan kritik luas dari publik karena dinilai mengancam stabilitas layanan masyarakat.
Sikap politik Musk yang agresif dinilai sejumlah analis telah mengaburkan fokus utamanya terhadap inovasi teknologi di sejumlah korporasi raksasa yang dipimpinnya, seperti Tesla, SpaceX, xAI, dan platform sosial X. Investor pun mulai mengkhawatirkan citra korporat yang kian tergerus akibat kontroversi politik sang pemimpin. Menanggapi kekhawatiran tersebut, Musk mengisyaratkan komitmennya untuk mengembalikan prioritas kerja pada sektor pengembangan teknologi.
Ke depan, miliarder ini menyatakan akan mencurahkan energinya pada akselerasi kecerdasan buatan (AI) yang diyakininya mampu memicu lompatan ekonomi global yang signifikan. Guna mengantisipasi risiko keamanan, ia juga mengusulkan adanya sistem peninjauan bersama antarpengembang AI sebelum teknologi tersebut dilepas ke publik. Kendati mengaku ingin menjauh dari hiruk-pikuk politik praktis, para pengamat menilai pengaruh opini geopolitik Musk akan tetap sulit dipisahkan dari figur sang miliarder.