Google kembali menghadapi tantangan besar dalam perlombaan teknologi kecerdasan buatan (AI). Raksasa teknologi di bawah naungan Alphabet Inc. ini terpaksa menunda peluncuran Gemini 3.5 Pro, model AI andalan terbarunya. Penundaan yang berlangsung selama beberapa bulan ini terjadi karena perusahaan masih membutuhkan waktu lebih untuk meningkatkan kemampuan model tersebut, khususnya dalam bidang pemrograman.

Langkah penundaan ini memicu gelombang keresahan dan rasa frustrasi di kalangan internal Google. Sejumlah peneliti, insinyur, dan manajer mengkhawatirkan posisi perusahaan yang terancam tertinggal di pasar. Mereka cemas para pesaing tangguh seperti OpenAI dan Anthropic akan meluncurkan model baru yang melampaui kemampuan teknologi besutan Google.

Lambatnya perilisan ini disinyalir terjadi akibat banyaknya lapisan pemangku kepentingan yang terlibat di internal Google. Proses integrasi teknologi AI ke berbagai produk utama seperti mesin pencarian, Google Maps, dan YouTube memerlukan koordinasi panjang yang akhirnya menghambat kecepatan rilis ke publik.

Di saat yang sama, kompetitor seperti Meta Platforms Inc. dan OpenAI terus melaju dengan meluncurkan model baru yang unggul dalam penulisan kode pemrograman. Google sebenarnya sempat memperbarui data pelatihan untuk Gemini guna mendongkrak kemampuan tersebut, namun hasilnya dilaporkan belum memuaskan. Kabar penundaan ini pun berimbas pada pasar saham, dengan penurunan harga saham Google hingga 3,2 persen.

Merespons dinamika tersebut, juru bicara Google menegaskan bahwa perusahaan berkomitmen untuk terus menghadirkan berbagai model baru dengan cepat. Pihak manajemen menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara inovasi teknologi dan efisiensi biaya bagi para pelanggan mereka.