Gejolak geopolitik kembali mengguncang pasar finansial global setelah Presiden Trump mengumumkan kebijakan blokade dan penetapan tarif baru di Selat Hormuz. Langkah ini segera memicu ketegangan diplomatik dengan Iran dan menimbulkan kekhawatiran serius mengenai potensi gangguan pasokan energi yang berkepanjangan di jalur krusial perdagangan minyak dunia.

Dampak langsung dari situasi ini tercermin pada lonjakan harga minyak mentah yang kini bergerak mendekati level US$80 per barel. Sementara itu, bursa saham Amerika Serikat merespons negatif; indeks Dow Jones tercatat terkoreksi sebesar 152 poin. Sektor teknologi, terutama perusahaan produsen chip, menjadi penekan utama pasar di tengah sentimen negatif mengenai valuasi sektor kecerdasan buatan (AI) yang dinilai telah mengalami overheat.

Tren penurunan ini terlihat jelas pada saham Micron Technology yang merosot sekitar 20 persen dari level tertingginya. Kondisi serupa terjadi di pasar Asia, di mana saham SK Hynix di Korea Selatan mengalami anjlok harian terdalam dalam kurun waktu 18 tahun terakhir. Fenomena ini memicu aksi jual berantai di sektor semikonduktor, seiring dengan keraguan investor terhadap keberlanjutan investasi besar-besaran di bidang infrastruktur AI di tengah risiko global yang kian tidak menentu.

Meskipun pasar diprediksi akan cenderung bergerak terbatas sepanjang musim panas, para analis tetap menyoroti ketahanan fundamental perusahaan. Sejauh ini, proyeksi laporan keuangan kuartal kedua 2026 menunjukkan optimisme dengan estimasi pertumbuhan S&P 500 sebesar 23,3 persen. Namun, volatilitas pasar diperkirakan akan terus berlanjut seiring upaya investor dalam menyeimbangkan antara potensi keuntungan jangka panjang dari teknologi dan risiko geopolitik yang berkembang pesat.