Upaya pemahaman masyarakat tentang pentingnya kesehatan anak terus digalakkan oleh Pemerintah Kabupaten Probolinggo. Melalui Podcast Kesehatan (Podkes) bertajuk "Ngobras", Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat mengupas tuntas pentingnya pemberian imunisasi guna membentengi anak-anak dari ancaman berbagai penyakit berbahaya.
Hadir sebagai narasumber dalam program tersebut, Pejabat Fungsional (JF) Epidemiologi Dinkes Kabupaten Probolinggo, Retno Anjar Pratiwi, menjelaskan bahwa imunisasi merupakan langkah krusial untuk membangun kekebalan tubuh anak secara spesifik. Melalui imunisasi, anak-anak terlindungi dari Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) seperti polio, campak, difteri, dan tetanus.
Anjar memaparkan bahwa pemberian vaksinasi harus dimulai sejak dini, yakni vaksin Hepatitis B (HB-0) yang diberikan maksimal 24 jam setelah bayi lahir. Proses ini kemudian berlanjut dengan imunisasi dasar lengkap hingga anak berusia 11 bulan, disusul imunisasi lanjutan sampai usia dua tahun, hingga program imunisasi anak sekolah. Layanan ini tersedia gratis di Puskesmas, Posyandu, serta fasilitas kesehatan milik pemerintah.
Menanggapi kekhawatiran orang tua mengenai efek samping, Anjar menegaskan bahwa reaksi seperti demam ringan atau rewel setelah vaksinasi adalah hal yang wajar. Kondisi tersebut merupakan tanda tubuh sedang membentuk kekebalan dan dapat diredakan dengan kompres hangat atau parasetamol. Kejadian ikutan pasca-imunisasi (KIPI) yang serius sangatlah langka terjadi.
Sementara itu, Penelaah Teknis Kebijakan Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Probolinggo, Putri Meilia, menyoroti maraknya disinformasi atau hoaks yang menyebut vaksin dapat memicu kecacatan. Ia menegaskan fakta sebaliknya, di mana imunisasi, seperti vaksin polio, justru menjadi perisai utama untuk mencegah kelumpuhan permanen pada anak.
Bagi orang tua yang sempat melewatkan jadwal vaksinasi buah hatinya, Putri mengimbau untuk segera melakukan imunisasi kejar. Dukungan aktif dari seluruh anggota keluarga sangat diharapkan untuk memantau Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) serta berkonsultasi langsung dengan petugas medis guna memastikan anak mendapatkan perlindungan kesehatan yang optimal.